Puluhan Santri LDII Jember Ikuti Tajemtra 2014

Ketua DPD LDII Kabupaten Jember, Ir. H. Sunardi, MT menerjunkan puluhan santri LDII Kabupaten Jember untuk ikut serta memeriahkan puncak peringatan HUT RI ke-69 melalui (Tajemtra) Tanggugl-Jember tradisional. Puluhan santri LDII diangkut dari Jember pada pukul 09.30 WIB dengan menggunakan kendaraan truck menuju alun-alun Tanggul sebagai strat pemberangkatan Tajemtra. Dalam arahannya setelah melaksanakan sholat dzuhur di masjid Sabilurroyan, PC LDII Kecamatan Tanggul, Sunardi berpesan kepada seluruh santri untuk tetap menjaga kekompakan dan menunjukkan citra yang baik di sepanjang perjalanan, tentu saja dengan semangat dan tetap menjaga tubuh tetap sehat dan bugar. Sepanjang jalan supaya guyub-rukun-kompak dan saling menjaga dengan sesama peserta, terutama dengan masyarakat/penonton supaya bersapa dengan baik, karena Tajemtra ini adalah ajang silaturrohim dengan seluruh lapisan masyarakat. Yang paling pokok, Sunardi menekankan kepada santri bila waktunya sholat telat tiba, supaya segera melakukan sholat dengan berjamaah dimasjid-masjid yang dilalui. Sholat adalah tiangnya agama dan awalnya amalan yang nanti dihisab oleh Alloh, maka sholat wajib dikerjakan jika waktunya telah tiba. 

Posted in LDII, Tajemtra 2014 | Leave a comment

Tajemtra 2014 Ajang Silaturrohim Masyarakat Jember

Bupati Jember MZA Djalal siap pimpin Gerak jalan tradisional dari Tanggul ke Jember yang ditempuh sepanjang 30km melalui jalan provinsi Jawa Timur

Posted in Tajemtra 2014 | Leave a comment

Maha Suci Allah, Allah Maha Mengetahui Ilmunya

ilmu-allah
Berkata Malaikat: “Maha Suci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha Menghukumi”  Surat Al-Baqoroh (2:32).

Beribu-ribu tahun yang lalu, ketika Allah akan menjadikan Adam sebagai khalifah di muka bumi, para Malaikat sempat mempertanyakan mengapa Allah memilih mahluk yang doyan berbuat kerusakan dan mengalirkan darah menjadi khalifah?. Mengapa bukan justru mereka saja yang terus menerus tanpa putus bertasbih yang dinobatkan menjadi khalifah bumi? Heran.

Bagaimana cara Allah menangani keheranan Malaikat? Wa ‘allamal adaama asmaa-a kullahaa diajarkan-Nya-lah kepada Adam nama seluruh benda yang waktu itu ada di muka bumi. Sini tanah, situ pohon, sana batu, sono langit, ini hidung, itu kaki, dst, dst.

Setelah itu Allah berkata kepada Malaikat: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kalian benar”. Malaikat menyerah. Fasajaduu – mana sujud para Malaikat itu, kepada Adam, illaa ibliis – kecuali Iblis.

Hanya ilmu tentang nama-nama benda. Bukan ilmu dasar iptek matematika, fisika, kimia, biologi yang ruwet-rumit. Hanya nama-nama benda. Tidak lebih.

Peristiwa Besar
Kejadian itu sepertinya hal kecil. Padahal adalah sebuah peristiwa besar. Yang menunjukkan betapa makhluq itu tidak ada apa-apanya dimata Sang Khaliq.

Malaikat dibuat dari cahaya. Manusia dibuat dari tanah. Tugas manusia adalah beribadah kepada Allah. Tugas Malaikat adalah, antara lain, mencatat amal baik dan amal buruk manusia.
Dari hal-hal itu, seorang anak kecil saja bisa menarik kesimpulan bahwa kedudukan Malaikat lebih tinggi dari manusia.

Tapi mengapa Malaikat “kalah” ketika di test nama-nama? Padahal hanya nama-nama sederhana? Kalah oleh manusia yang ingredient alias ramuan bahan dasarnya saja “lebih rendah”?.
Jawabnya: karena Allah menghendaki demikian. Karena Allah menghendaki mengajarkan kepada Adam ilmu nama-nama yang tidak pernah diajarkan-Nya kepada Malaikat.

Einstein-Hawking
Jika ditanya siapakah ilmuwan-ilmuwan terbesar sepanjang masa, maka Albert Einsten dan Stephen Hawking adalah dua nama diantaranya. Yang pertama terkenal dengan teori relativitasnya, yang kedua terkenal dengan teori ‘big bang’ alias dentuman besarnya. Teori apa itu? Bukan porsi artikel ini untuk menjelaskannya.

Jawaban terhadap pertanyaan mengapa kecemerlangan otak mereka tidak diberikan kepada ilmuwan Muslim melainkan justru diberikan kepada ilmuwan atheis, identik dengan jawaban terhadap pertanyaan mengapa ilmu nama-nama tidak diberikan kepada Malaikat.
Diantara 25 Nabi, ada 5 Nabi yang mendapatkan peringkat Ulul ‘Azmi: Fashbir kamaa shobaro uulul ‘azmi – shobarlah sebagaimana rasul yang diberi keshobaran hati. Mereka adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad.

Tetapi mengapa Musa sampai harus meminta-minta diajari ilmu mengetahui masa depan kepada Nabi Khidir yang di dalam daftar 25 Nabi pun, tidak ada? Tragisnya, boro-boro mendapatkan ilmu, Musa menjadi murid Khidir pun, gagal, karena tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya atas berbagai hal yang memang aneh dan layak ditanyakan. Misalnya, dengan enaknya Khidir membunuh orok yang masih merah, dll.

Mengapa Khidir lebih pintar dari Musa? Jawabnya: karena Allah menghendaki demikian.
Dikejadian lain, mengapa Musa yang Ulul ‘Azmi bisa dikalahkan oleh ilmunya Bal’an bin Bauro sehingga muter-muter selama  40 tahun sampai bisa menemukan Baitul Maqdis?  Jawabnya: karena Allah menghendaki demikian.

Jika sejak tahun 1886 mobil Merdeces-Benz menemukan puluhan ribu paten, maka setiap paten sesungguhnya adalah Ilmu Allah, hanya saja awalnya ditemukan oleh orang Jerman, Tuan Gottlieb Daimler dan Tuan Carl Benz. Dst.,  dst. Tidak ada secuilpun di dunia ini yang tidak didasarkan atas ilmu Allah. Bahkan sekedar nama-nama benda.

Ikhtilaf
Sayang sekali, untuk 1 ilmu yang sama, Allah memberi keleluasaan kepada manusia untuk menafsirkannya secara berbeda. Terutama ilmu-ilmu non-eksakta.
Untuk ilmu eksakta, atau dulu disebut ‘ilmu pasti’, dimana-mana di belahan dunia manapun yang namanya 2 kali 2 hasilnya 4; yang namanya air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah; yang namanya kecepatan cahaya selalu jauh lebih besar daripada kecepatan suara; dst., dst.
Tetapi bagaimana dengan ilmu yang satu ini yang berbunyi: al-jamaa’atu rohmatun wal firqotu ‘adzabun – jamaah adalah rohmat dan pecah belah adalah siksa.

Ada seabrek pengertian yang dimaksud ‘jamaah’, ada seabrek  pengertian yang dimaksud ‘rohmat’, ada seabrek  pengertian yang dimaksud ‘firqoh’, dan ada seabrek  pengertian yang dimaksud ‘adzab’. Kalau dibuat matriks 4×4 jamaah-rohmat-firqoh-adzab, maka pengertiannya sudah pasti seabrek-abrek.

Maka disinilah fungsinya isnad atau mata rantai yang menjamin tersambungnya dengan pengertian yang sebenarnya dengan apa yang diajarkan dan dimaksudkan oleh Nabi.
Disinilah pentingnya ilmu asbabun-nuzul atau sebab-sebab turunnya sebuah ayat Al-Quran atau asbabul-wurud atau sebab-sebab adanya sebuah hadits.
Disinilah penting hadits Bukhori, Muslim, Nasai, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dsb.

Ilmu Tidak Bermanfaat.
Hah! Mosok iya ada ilmu yang tidak bermanfaat?
Yakin, haq: ada!. Buktinya Nabi mengajarkan do’a yang dibaca sebelum minum air zamzam: Alloohumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a – Ya Allah hamba memohon ilmu yang bermanfaat.
Bukti lain, di hadits lain, Nabi mengajarkan do’a: Alloohumma innii a’uudzu bika min ‘ilmin laa yanfa’ – Ya Allah hamba berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat. Nah.
Banyak ilmu ternyata tidak selamanya identik dengan orang faqih atau orang faham.
Faqihun wahidun asyaddu ‘alasy syaithooni min alfi ‘aabid – Satu orang faqih lebih berat bagi syaithan daripada seribu orang yang bodoh. Jadi bukan orang yang banyak ilmunya yang ditakuti syetan. Tapi orang faqih.

Satu ketika ada seorang sahabat yang menyimpan sedekah di sebelah mimbar di masjid, dengan harapan diambil oleh orang miskin. Apa yang terjadi? Sedekah tadi diambil oleh seorang pencuri.
Di lain hari, disimpannya lagi sedekah di sebelah mimbar masjid, dengan harapan yang sama. Apa yang terjadi? Sedekah tadi diambil oleh orang tidak baik lainnya. Demikian seterusnya.
Sohabat tadi kemudian lapor kepada Nabi yang kemudian dijawab bahwa pada saat sedekah itu diletakkan di sebelah mimbar, pahalanya sudah diterima di sisi Allah.
Ilmu Allah dari hadits diatas adalah, saat sedekah, pahala sudah jadi. Urusan sedekah itu menjadi apa, sudah menjadi urusan Allah.

Identik dengan keadaan masa kini. Saat seorang Mumin menyerahkan sedekahnya kepada Baitul Maal wa Tamwil (BMT), saat itu pahalanya sudah diterima oleh Allah. Terserah Allah, melalui pengurus BMT mau diapakan sedekahnya itu. Itulah ilmu Allah, sebagaimana yang dapat dipetik dari hadits sedekah yang diambil bukan oleh orang miskin diatas.
Sebaliknya mereka yang sedekah kemudian mengungkit-ungkit, mencari-cari, berprasangka, suudzon tanpa hak, itu adalah Ilmu Syetan yang mengajak menghancur-leburkan amal sedekahnya sendiri.
Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa tubtiluu shodaqootikum bil manni wal adza – Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian membatalkan sedekahmu dengan mengungkit-ungkit dan menyakitkan hati. Nah, apalagi kalau bukan Ilmu Syetan yang membatalkan amalan?

Ibadah Ghoiro Maghdhoh
Definisi syirik sudah jelas. Ada di Al-Quran dan ada di Al-Hadits. Syirik yang terang-terangan alias dzahar adalah menyembah kepada selain Allah, atau menduakan Allah. Syirik yang samar alias khoufi adalah ibadah mengharapkan ‘sesuatu’ selain pahala dari Allah.  Segala macam syirik ganjarannya adalah dimasukkan kedalam neraka.

Maka itu terhadap pendapat yang menyatakan bahwa menghormat bendera adalah perbuatan syirik, sudah pasti disebabkan bingung tidak bisa membedakan antara “menyembah” dengan “menghormat”.
Hormat bendera adalah bagian dari kewajiban warga negara untuk selayaknya menghormati segala atribut yang melambangkan kebesaran negara. Bahkan untuk hal-hal tertentu, pelecehan terhadap atribut negara menimbulkan konsekwensi hukum.

Jika istiqomah – konsisten dengan keyakinannya, yang menyatakan syirik terhadap menghormat bendera, seharusnya menyatakan syirik pula terhadap yang mentaati lampu setopan di perempatan jalan, dan yang mentaati tukang parkir, karena bukankan taat itu hanya kepada Allah dan Rasul? Bahkan seharusnya menyatakan perbuatan syirik pula terhadap pembayaran STNK, pembuatan KTP dan SIM, dll., dll., bukan?

Karena kebanyakan ilmu, namun bukan Ilmu Allah, melainkan ro’yu ilmu fikiran sendiri, maka syetan pun masuk. Padahal ro’yu itu sangat berbahaya. Sabda Nabi, barang siapa yang berkata dengan ro’yu alias fikiran sendiri – fa ashooba faqod akhto – umpamapun perkataannya benar, maka tetap saja salah. Apalagi perkataannya salah. Pantas bingung.
Kalau sudah bingung, firman Allah tsummun bukmun ‘umyun – tuli bisu buta, fahum laa yarji’uun – maka mereka tidak bisa kembali.

Alhamdulillah bagi mereka yang bisa mengamalkan ibadah maghdhoh yang berkaitan dengan Rukun Iman percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab, Nabi, Qodar dan Kiamat; serta ibadah yang berkaitan dengan Rukun Islam Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa dan Haji.

Alhamdulillah bagi mereka yang bisa membedakan mana ibadah ghoiro maghdhoh yang tidak berkaitan dengan kedua rukun diatas, melainkan ibadah sosial. Yaitu memiliki keyakinan bahwa menjadi warga negara yang taat kepada Pemerintah yang sah serta menghormati 4 pilar (1) Pancasila, (2) Undang-undang Dasar (UUD) 1945, (3) Bhineka Tunggal Ika dan (4) NKRI, adalah bagian daripada ibadah.

Hanya Ilmu Allah yang sebenarnya yang bisa membawa keyakinan seperti itu. Maka sesekali tirukanlah ucapan Malaikat ketika menyerah kepada Allah untuk sujud kepada Adam: “Ya Allah, tidak ada ilmu bagi kami kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami”.
Kalau sudah demikian, setinggi apapun ilmu agama dan ilmu dunia yang dikuasai, bagaimana mungkin masih bisa sombong? Fa aina tadzhabuun?
Ir. H. Teddy Suratmadji, M.Sc.

Posted in Ilmu Allah | Leave a comment

5 Amalan Penting di Bulan Ramadhan

Ramadhan bulan suci, bulan yang selalu didambakan kehadirannya dan menjadi bulan penuh amalan yang berlipat ganda pahalanya. Bulan di mana Allah memperbesar pahala, melipatgandakan ganjaran, dan membuka pintu-pintu kebaikan bagi orang-orang yang mengerjakan ibadah dan amal soleh. Bahkan para malaikat berseru kepada manusia dimalam Ramadhan: “Hai orang-orang yang berbuat baik teruskanlah dan wahai orang-orang yang berbuat kejelekan hentikanlah”. Dimalam awal ramadhan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, serta setan-setan dibelenggu.”

Dari Abu Hurairah radhiyallohuanhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallohu alaihi wasallam memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan sabdanya:
قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang mubarak (diberkahi). Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan dibelenggu. Juga terdapat dalam bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang tidak memperoleh kebaikan lailatul qadr, maka ia orang yang terhalang dari kebaikan.” (HR. Nasa`i dan Ahmad)

Tahukah anda bahwa ada 5 amalan yang sangat penting dan kita harus berlomba-lomba untuk mendapatkan kesuksesan dari 5 amalan di bulan Ramadhan? Inilah kenapa warga LDII dianjurkan untuk meraih 5 sukses didalam bulan Ramadhan. Tentu saja 5 sukses ini harus dijalankan oleh setiap orang Islam, orang Iman diseluruh dunia karena Islam adalah Rahmatan lil’alamin. Islam adalah agama penutup zaman dan Rosululloh adalah Khotaman Nabiyyin (penutup para Nabi). Apakah 5 sukses itu?

1. Sukses Puasa Ramadhan
Puasa selama sebulan penuh wajib sukses kita jalankan, puasa berarti meninggalkan makan, minum dari mulai adzan subuh sampai adzan maghrib. Puasa dari hal-hal yang dilarang dan membatalkan puasa, seperti bersetubuh disiang hari.

Puasa di bulan Ramadhan merupakan penghapus dosa-dosa yang terdahulu apabila dilaksanakan dengan ikhlas berdasarkan iman dan hanya mengharapkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala, Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah subahanahu wa ta’ala, niscaya diampuni dosa-dosanya telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

2. Sukses Sholat malam (Taraweh) 
Dimalam-malam bulan Ramadhan ada sholat sunnah yang dimuakadkan atau ditekankan untuk selalu dikerjakan atau sering disebut sholat taraweh. Sholat taraweh ada yang mengerjakan 11 rokaat, ada juga 21 rokaat, yang pastinya ditutup dengan witir (ganjil) di akhir sholatnya. 
“Barang siapa berdiri (sholat) Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah
subahanahu wa ta’ala, niscaya diampuni dosa-dosanya telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Sukses Membaca Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an menjadi kebiasaan Rosululloh selama hidupnya, dimana Rosululloh bersama dengan malaikat Zibril bertadarus dengan Al-Qur’an, dan diyakini oleh umat Islam bahwa turunnya Al-Qur’an juga di bulan Ramadhan yang dikenal dengan Nuzulul Qur’an. Memabaca satu huruf Al-Qur’an, Allah mencatat satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan, bahkan setiap amalan di bulan Ramadhan dilipatkan hingga 1000 kebaikan sampai ila masya Allah. Berlomba-lomba untuk menghatamkan dan mengafalkan Al-Qur’an tentu saja menjadi kekhususan bagi Allah. Dalam suatu hadits diriwayatkan bahwa : “Allah akan memberikan mahkota kepada orang tua yang anaknya membaca Al-Qur’an yang terangnya mahkota itu lebih terang dari matahari didunia, seandainya mahkota itu ditempatkan dirumah kalian, maka apa persangkaan kalian kepada yang membacanya?”
4. Sukses Lailatul Qodar 
Ada satu malam berpangkat di salah satu 10 malam terakhir bulan Ramadhan yang Allah menurunkan pada malam tersebut malam yang lebih baik dari 1000 bulan, dialam malam Lailatul Qodar, malam dimana Allah menentukan Qodar setiap mahluknya. Suatu hari Rosululloh bercerita dan heran terhadap hamba Alloh yang selama hidupnya tidak pernah berbuat dosa dan selalu tunduk beribadah kepada Allah. Sehingga turunlah ayat Qodar yang didalam bulan Ramadhan itu ada satu malam yang Allah menerangkan lebih baik dari ibadahnya hamba tersebut. Bila dihitung 1000 bulan itu tak kurang dari 80 tahun. Maka apakah kita akan melewatkan malam Lailatul Qodar itu? 
Wahai orang-orang yang beriman….. jangan kita sia-siakan sehingga kita terlewatkan dari malam Lailatul Qodar itu, mari kita berlomba-lomba untuk mendapatkan pahalanya dengan iktikaf di 10 malam terakhir di masjid-masjid atau meningkatkan amalan di 10 malam terkahir Ramadhan. Kenapa di 10 malam terakhir? 
Dalam suatu hadits diceritakan, pada suatu hari Rosululloh sedang menjelaskan tentang malam berpangkat kepada sahabatnya karena didekat Beliau ada sahabat yang bertengkar, maka yang Beliau ingat adalah tanda-tanda malam berpangkat itu, yaitu dimana malam itu malam yang berair, sehingga ketika Beliau suzud maka membekas tanah di keningnya. Pagi hari Rosululloh melihat begitu cerah dan semangat meliputinya, itulah ciri-ciri malam Lailatul Qodar. Rosululloh menambahkan bahwa malam itu malam ganjil bulan Ramadhan.
5. Sukses Zakat Fitrah
Zakat fitrah merupakan perintah wajib dari Allah kepada setiap hamba yang telah ditentukan yaitu satu sok dari bahan makanan yang dalam keseharian kita makan atau kurang lebih 2,7kg. Zakat Fitrah juga sebagai penyempurna amalan Ramadhan sehingga sampai kepada Allah. Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa amalam Ramadhan itu berputar-putar di atas langit dan yang bisa mengangkat sampai kepada Allah itu adalah zakat Fitrah. Zakat fitrah wajib didatangkan oleh setiap jiwa, dari yang baru lahir sampai lanjut usia.

Posted in Amalan Ramadhan | Leave a comment

Perjalanan Sirot ke Bumi Perkemahan CAI Wonosalam Jombang

Tiga pemuda LDII asal kota Jember yang menjadi utusan dari sekian ribu pemuda LDII dari seluruh Indonesia ini berkisah tentang perjalanannya menuju bumi perkemahan Kosambiwojo Wonosalam. Minggu, 22 Juni 2014 dini hari tepatnya pukul 23.00, Sirojudin salah satu dari tiga peserta asal Seputih Jember menghidupkan mesin mobil Panter P1109RG. sebagai awal perjalanannya untuk menjemput dua rekannya, Dwi Ario di Rambipuji dan Taufik di Tanggul. Sebelum menjemput Rio, Sirot meluncur ke jalan Kampus Universitas Jember yang lengang tapi dipinggir jalan masih banyak para penjual kaki lima yang sesekali didatangi mahasiswa. Tomy, rekan baru yang menjadi target penjemputan di Batu Permata yang kebetulan mendapatkan tugas dinas dari tempat kerjanya untuk mengikuti prajabatan di Surabaya, bisa menjadi driver penggantinya. Disamping Sirot ada sesepuh KH. Wafdulloh yang hendak pulang menuju Kediri. Perjalanan malam hari itu serasa panjang dan lama dengan melewati beberapa kota, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, Surabaya, Mojokerto terus menuju Jombang dan mengantarkan KH. Wafdulloh ke Kediri. Menjelang subuh rombongan itu mampir untuk sholat subuh di Masjid Jamik Mojokerto. Alhamdulillah perjalanan sangat lancar dan tidak mengalami kendala, kata Sirot.

Perkemahan Kemping Cinta Alam Indonesia (CAI) secara rutin dilaksanakan oleh LDII sebagai pembinaan generasi muda LDII membentuk karakter yang mandiri, berakhlak mulia dan tentu saja untuk memupuk kecintaan generasi muda terhadap Alam Indonesia dengan norma-norma dan karakter Islami menuju generasi muda Indonesia yang bermartabat. Kemping Cai pada tahun 2014 ini dilaksanakan mulai tanggal 23-26 Juni 2014 di bumi perkemahan CAI Kosambiwojo Wonosalam Jombang.

Kemping Cai ini diikuti oleh seluruh utusan DPD LDII Kabupaten seluruh Indonesia bahkan ada beberapa utusan dari luar negeri, kata Sirot. Kami bertiga utusan dari Jember datang di Wonosalam pada pukul 13.00 dan langsung registrasi di tempat yang sudah disiapkan. Dari registrasi itu kami mendapatkan nomor tenda dan seperangkat kelengkapan lainnya termasuk kaos.

Kemping Cai tahun 2014 akan dibuka oleh Panglima Jendral TNI Moeldoko dan dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf dan muspida Jombang.

Posted in Perjalanan Sirot | Leave a comment

Da’i LDII Jember Ikuti Diklat di UIN Sunan Ampel Surabaya

Ketua DPD LDII Kabupaten Jember, Ir. H. Sunardi, MT, mengirimkan 2 da’i terbaiknya dalam diklat da’i yang dilaksanakan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Diklat angkatan ke-4 program berkelanjutan DPW LDII Provinsi Jawa Timur (24-25 Mei) diikuti 80 orang peserta adalah utusan dari pondok-pondok binaan LDII dari 38 Kabupaten/Kota se-Jawa Timur, termasuk Ustad Lukman Hakim dan Ustad Wiyono yang mewakili DPD LDII Kabupaten Jember.

Peserta diklat dari Jember, Lukman berharap DPD LDII Kabupaten Jember dapat meneruskan Diklat serupa di Jember, Lukman memandang bahwa diklat da’i yang dia ikuti sungguh menambah wawasan dan ilmu dalam menjalankan tugas bagi da’i-da’i di Kabupaten Jember khususnya. Betapa banyak ilmu yang kami dapatkan dari para pemateri yang berkompeten dengan wawasan para senior dan ahlinya sehingga secara moral ilmu yang kami dapat seyogyanya dapat kami teruskan kepada da’i-da’i yang belum berkesempatan seperti kami. Dengan harapan DPD LDII Kabupaten Jember dapat bekerjasama dengan STAIN Jember untuk memberikan ilmu yang serupa untuk tugas mulya menyampaikan ilmu agama kepada masyarakat luas.

Kami berdua sangat senang dan bersyukur dapat mengikuti diklat da’i, setelah kami mengikutinya kami merasa bahwa kami termasuk da’i yang beruntung sehingga bisa bertukar pengalaman dengan para peserta dari berbagai Kabupaten/Kota di wilayah Jawa Timur, terlebih para pemateri yang sudah kompeten dibidang ilmunya bisa memberikan pencerahan terbaik dalam misi menyampaikan dakwah Islam yang baik.

Posted in Dai Kiriman Jember | Leave a comment

Diklat Da’i LDII Angkatan ke-4 Untuk Indonesia yang Bermartabat


DPW LDII Provinsi Jawa Timur kembali mengirimkan dai-dai terbaiknya menimba ilmu di UIN Sunan Ampel Surabaya dalam rangka meningkatkan kualitas keilmuan yang menjadi syarat penting bagi seorang da’i (penyampai agama). Diklat Da’i yang diselenggarakan DPW LDII Provinsi Jawa Timur bekerjasama dilaksanakan selama dua hari (24-25 Mei 2014) ini merupakan angkatan ke IV sejak tahun 2011. Sehingga diklat ini bersifat berkelanjutan sejak angkatan pertama.
Fokus utama diklat adalah pemberian wawasan kebangsaan pada para da’i. Dalam ruang lingkup keindonesiaan, maka para da’i juga wajib memiliki wawasan untuk mendukung NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dalam setiap paparan dakwahnya. Segala perbedaan yang muncul dalam keseharian sudah selayaknya dibingkai dalam wadah NKRI.
“Perbedaan itu tak perlu dipermasalahkan. Hati saya sudah tersangkut dengan LDII. Meskipun saya tidak harus menjadi anggota LDII,” ujar Dr. H. Sahid HM, M.Ag Dekan Fakultas Syariah & Hukum UIN Sunan Ampel sebagai salah satu pembicara. Sahid juga mengedepankan dakwah transformatif. Dalam arti, dakwah haruslah bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Dalam kaitan agama dengan negara, Sahid memaparkannya dari tiga paradigma. Pertama, integratif, negara dan agama menyatu. Paradigma ini menempatkan negara sebagai lembaga politik sekaligus keagamaan. Akibatnya, penerapan hukum Islam sebagai hukum positif menjadi sebuah keniscayaan.
Paradigma kedua, sekularistik. Konsep ini memisahkan agama dan negara. Dengan demikian syariat Islam tidak bisa serta merta menjadi hukum positif, kecuali telah diterima sebagai hukum nasional.  Paradigma ketiga, simbiotik, dimana agama dan negara berhubungan secara simbiotik.
Menurut Sahid, Indonesia tergolong dalam paradigma ketiga karena tidak mendasarkan pada satu agama tertentu, namun lebih menggunakan Pancasila sebagai dasar negara.  Sehingga konsep dakwah yang mendukung NKRI menjadi sebuah keharusan.
Ketua DPW LDII Jawa Timur, Ir. H. Criswanto, M.Sc dalam sambutannya menuturkan bahwa diklat diikuti 80 orang peserta yang merupakan utusan dari pondok-pondok binaan LDII dari 38 Kabupaten/Kota se-Jawa Timur, termasuk Ustad Lukman Hakim dan Ustad Wiyono yang mewakili DPD LDII Kabupaten Jember. Lukman berharap acara serupa bisa diadakan di DPD LDII Jember dan bisa bekerjasama dengan STAIN Jember. Diklat yang mengambil tema Dialektika Dakwah Inklusif  dan Fiqh Tranformatif ini menghadirkan pemateri dari berbagai elemen. Antara lain Kementrian Agama Provinsi Jawa Timur, Majelis Ulama’ Indonesia, PWNU, PW Muhammadiyah, UIN Sunan Ampel Surabaya dan BAZ Jawa Timur. Para da’i inilah yang kelak menjadi para penyampai dakwah dengan mengedepankan konsep inklusivitas dan mendukung NKRI.
Selain transformatif, dakwah juga semestinya bersifat sosial ekonomi. Contoh dakwah sosial seperti dilakukan oleh Rasulullah SAW hingga beliau mendapat gelar Al-Amin yang berarti dapat dipercaya. Hal ini disampaikan oleh Ir. H. Chriswanto Santoso, M.Sc selaku Ketua DPW LDII Jawa Timur, yang tampil sebagai pembicara terakhir dalam diklat.
“Dakwah sosial tidak cukup dilakukan secara sporadis/sepintas, akan tetapi harus terus menerus sehingga terbangun komunikasi dan kondisi yang baik untuk menyampaikan pesan dakwah,” ujar Chriswanto.
Sementara itu dakwah ekonomi yang dimaksud adalah mengubah kondisi yang buruk menjadi lebih baik. Misalnya dengan membangun aktivitas sosial ekonomi di tingkat lokal, regional, nasional, bahkan internasional. Seperti program Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, BMT, ataupun melalui lembaga PINBUK, BAZ, LAZNAS BMT, dll.
Prinsip dasar dakwah ekonomi adalah tolong menolong dan kasih sayang terhadap sesama. Prinsip ini sebenarnya sudah tertuang dalam ajaran Islam tentang infaq, shodaqoh, dan zakat.
Menurut Chriswanto, pendekatan sosial ekonomi dalam dakwah diharapkan mampu menghindarkan dari resistensi dan konfrontasi. Selain itu mampu menumbuhkan kemandirian dalam diri umat.
“Melakukan pendekatan sosial dan ekonomi itu perlu dilakukan terlebih dahulu, baru kemudian melakukan penyampaian dakwah,” tutur Chriswanto.

Dengan demikian pendekatan sosial ekonomi dalam dakwah mampu menjadi akses kelancaran dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Posted in Diklat Dai Angakatan ke IV | Leave a comment

Ulama LDII Ingatkan Membayar Hutang Puasa Ramadhan

Wajibnya puasa di bulan Ramadhan menjadikan perhatian khusus bagi Ulama Lembaga Dakwah Islam Indonesia, terutama kepada kaum wanita yang sudah menjadi kodratnya yang selalu kedatangan tamu penting setiap bulannya yaitu menstruasi atau haid. Menstruasi atau hed yang dialami setiap wanita bisa terjadi sekitar 2 hari sampai 7 hari paling lama 15 hari.

Wajibnya mejalankan puasa Ramadhan bagi umat Islam menjadikan setiap wanita berpotensi mempunyai hutang puasa. Wanita yang menstruasi atau haid tidak berkewajiban membayar sholatnya tetapi Wajibnya puasa Ramadhan bagi wanita yang menstruasi atau haid harus membayar hutang puasa Ramadhan, wajib untuk di saur atau diganti di hari yang lain.

Ulama LDII mengingatkan kepada kaum wanita untuk segera menyauri atau membayar hutang puasa Ramadhan tahun sebelumnya sejumlah hari menstruasinya waktu Ramadhan. Hal ini mengingat sebentar lagi sudah menhadapi Ramadhan.

Banyak dari kaum wanita yang belum faham akan wajibnya puasa Ramadhan dan mengganti atau membayar hutang puasanya saat terjadi menstruasi atau haid. Untuk membayar puasa Ramadhan bisa dilakukan dihari-hari selain bulan Ramadhan. Agar hutang puasanya tidak semakin menumpuk maka dianjurkan untuk segera menggantinya di hari lain selain Ramadhan.

Sebagaimana Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183. Puasa adalah ibadah yang istimewa karena amalan puasa untuk Allah dan pahalanya diperhitungkan langsung oleh Allah sendiri.
 
Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertaqwa.

[Surah Al-Baqarah ayat 183]

 
… Rasulullah s.a.w. bersabda: “Islam dibangun atas lima perkara: Syahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, dan menegakkan shalat, dan membayar zakat, dan haji, dan puasa Ramadhan”.

[Hadist Shohih Bukhari No. 8 Kitabul Iman]
… Rasulullah s.a.w bersabda: “Allah berfirman: Setiap amalan Anak adam adalah untuknya kecuali puasa. Maka sesungguhnya puasa itu untukku, aku sendiri langsung membalasnya …”.
 [Hadist Shohih Bukhari No. 1904 Kitabu Shiam]

Meninggalkan puasa satu hari di bulan Ramadhan pahalanya tidak bisa ditandingi walau diganti dengan puasa satu tahun penuh.

Namun demikian syariat Islam memberikan kemurahan untuk tidak puasa di bulan Ramadhan kepada golongan tertentu, yaitu:

  1. Laki-laki atau perempuan tua renta yang sudah tidak kuat lagi berpuasa, bisa mengganti dengan membayar fidyah, memberi makan satu orang miskin tiap hari. Sedangkan orang tua yang masih kuat berpuasa tetap wajib tidak boleh meninggalkan puasa.
  2. Orang sakit pria atau wanita yang tidak mungkin diharapkan kesembuhannya, bisa mengganti dengan membayar fidyah, memberi makan satu orang miskin tiap hari.
  3. Ibu-ibu hamil atau menyusui yang mengkhawatirkan keselamatan bayinya, boleh tidak berpuasa namun wajib mengganti puasa di hari lain. Sedangkan wanita hamil atau menyusui bayi yang sehat, kuat dan gizinya tercukupi tetap wajib berpuasa.
  4. Para musafir yang bepergian sejauh perjalanan 1 hari atau kurang lebih 90 (sembilan puluh) kilometer, boleh tidak berpuasa namun wajib menggantinya di luar Ramadhan.
  5. Orang gila atau pikun selamanya, bebas dari kewajiban puasa Ramadhan dan tidak wajib membayarnya di kemudian hari.



Puasanya Orang tua, Orang Sakit dan Ibu Hamil atau Menyusui

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ…* سورة البقرة 184
… dan atas orang-orang yang menguat-nguatkan (benar-benar tidak kuat) boleh membayar fidyah memberi makan satu orang miskin …
[Surah Al-Baqarah (2) ayat 184]

Sesuai dengan tafsir dari sahabat Ibni Abbas sebagaimana tertulis dalam Kitab Faqih Sunnah bahwa ayat ini merupakan kemurahan bagi orang tua yang tidak kuat berpuasa dan orang sakit yang tidak bisa diharapkan sembuhnya, boleh tidak puasa dan mengganti dengan membayar fidyah.

وروى البخاري عن عطاء: أنه سمع ابن عباس رضي الله عنهما يقرأ: ” وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين ” قال ابن عباس ليست بمنسوخة، هي للشيخ الكبير، والمرأة الكبيرة، لا يتسطيعان أن يصوما، فيطعمان (1) مكان كل يوم مسكينا.
والمريض الذي لا يرجى برؤه، ويجهده الصوم، مثل الشيخ الكبير، ولافرق.
[السنة فقه]
Dan Imam Al-Buchari meriwayatkan dari ‘Atho’, sesungguhnya dia mendengar Ibni Abbas membaca ayat: “وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين”, Ibni Abbas mengatakan ayat ini tidak mansuh, ayat ini kemurahan bagi orang laki-laki dan perempuan yan sangat tua yang tidak mampu berpuasa, maka masing-masing dari keduanya memberi makan satu orang miskin setiap harinya, dan ayat ini kemurahan bagi orang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya dan berat baginya bila berpuasa, hukumnya seperti orang yang sudah sangat tua, tidak ada perbedaan.

2318 – حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ، عَنْ سَعِيدٍ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ عَزْرَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: {وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ} [البقرة: 184] ، قَالَ: «كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ، وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ، وَهُمَا يُطِيقَانِ الصِّيَامَ أَنْ يُفْطِرَا، وَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ سْكِينًا، وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا» ، قَالَ أَبُو دَاوُدَ: «يَعْنِي عَلَى أَوْلَادِهِمَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا»

__________
[حكم الألباني] : شاذ

… Ibnu Abbas berkata: “Ayat ini merupakan kemurahan / rukhshoh bagi orang laki-laki dan perempuan yang sangat tua, keduanya menguat-nguatkan berpuasa, bahwasannya keduanya boleh tidak berpuasa dan masing-masing (mengganti) memberi makan satu orang miskin setiap harinya, demikian pula wanita yang hamil dan perempuan yang menyusui bayinya ketika keduanya mengkuatirkan. Imam Abu Dawud berkata maksudnya atas keselamatan bayinya, maka keduanya boleh tidak berpuasa dan (mengganti) memberi makan.
[Hadist Abu Dawud No. 2318 Kitabu Shoum]

وَقَالَ الحَسَنُ، وَإِبْرَاهِيمُ: «فِي المُرْضِعِ أَوِ الحَامِلِ، إِذَا خَافَتَا عَلَى أَنْفُسِهِمَا أَوْ وَلَدِهِمَا تُفْطِرَانِ ثُمَّ تَقْضِيَانِ، وَأَمَّا الشَّيْخُ الكَبِيرُ إِذَا لَمْ يُطِقِ الصِّيَامَ فَقَدْ أَطْعَمَ أَنَسٌ بَعْدَ مَا كَبِرَ عَامًا أَوْ عَامَيْنِ، كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا، خُبْزًا وَلَحْمًا، وَأَفْطَرَ»
… Hasan dan Ibrahim berkata: “Perempuan yang menyusui atau hamil yang menguatirkan dirinya atau anaknya, maka boleh tidak berpuasa, kemudian membayar fidyah. Adapun orang yang sangat tua ketika tidak kuat berpuasa, maka Anas ketika telah sangat tua sungguh memberi makan / fidyah berupa roti dan daging pada satu orang miskin setiap hari kemudian tidak berpuasa, dlam setahun atau dua tahun (sebelum meninggal / setelah umurnya lebih dari 90 tahun)
[Hadist shohih Bukhari Kitabu Tafsir Al-Quran]

Puasanya Musafir

Orang yang bepergian dalam bulan Ramadhan juga diberi kemurahan untuk mokel, tidak berpuasa namun wajib menggantinya di luar bulan Ramadhan. Kemurahan tidak berpuasa bagi musafir untuk tidak puasa berdasrkan Firman Allah dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 184 juga dapat dikaji dalam hadist Shohih Muslim No. 100 (1119) Kitabu Shoum dan Hadist Shahih Bukhari No. 4275 Kitabul Maghozi.

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ …
Hari-hari yang dihitung maka barang siapa ada dari kalian sakit atau dalam bepergian maka hitungannya pada hari yang lain …
[Surah Al-Baqarah (2) ayat 184]
100 – (1119) حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ مُوَرِّقٍ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي السَّفَرِ، فَمِنَّا الصَّائِمُ وَمِنَّا الْمُفْطِرُ، قَالَ: فَنَزَلْنَا مَنْزِلًا فِي يَوْمٍ حَارٍّ، أَكْثَرُنَا ظِلًّا صَاحِبُ الْكِسَاءِ، وَمِنَّا مَنْ يَتَّقِي الشَّمْسَ بِيَدِهِ، قَالَ: فَسَقَطَ الصُّوَّامُ، وَقَامَ الْمُفْطِرُونَ، فَضَرَبُوا الْأَبْنِيَةِ وَسَقَوْا الرِّكَابَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ذَهَبَ الْمُفْطِرُونَ الْيَوْمَ بِالْأَجْرِ»
… dari Anas r.a. dia berkata, kami bersama Nabi s.a.w. dalam suatu perjalanan, maka sebagian dari kami ada yang berpuasa dan sebagian dari kami ada yang tidak berpuasa. Anas berkata: Maka kami tinggal di suatu tempat pada hari yang sangat panas, yang paling banyak naungannya di antara kami adalah orang yang yang mempunyai kain, dan sebagian dari kami ada yang berlindung dari panas matahari dengan tangannya.
Anas berkata: Maka robohlah orang-orang yang berpuasa sedangkan orang-orang yang tidak berpuasa tetap tegar. Kemudian mereka mendirikan beberapa kemah dan memberi minum beberapa kendaraan.
Maka Rasulullah s.a.w. bersabda: “Pada hari ini orang yang tidak berpuasa mendapatkan pahala”.
[Hadist Shohih Muslim No. 100 (1119) Kitabu Shoum]
 4275 – …، وَعَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَخْبَرَهُ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ [ص:146] عَنْهُمَا قَالَ: «صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى إِذَا بَلَغَ الكَدِيدَ – المَاءَ الَّذِي بَيْنَ قُدَيْدٍ وَعُسْفَانَ – أَفْطَرَ، فَلَمْ يَزَلْ مُفْطِرًا حَتَّى انْسَلَخَ الشَّهْرُ»

… dari Ubaidillah sesungguhnya Ibni Abbas r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. berpuasa, sehingga ketika sampai di tanah Kadid (mata air yang berada di antara tanah Qodid dan ‘Asfan( Rasulullah s.a.w mokel (tidak berpuasa), maka tidak henti-hentinya Rasulullah s.a.w. tidak puasa sehingga habis bulan Ramadhan.

Posted in Wajibnya Mengganti Hutang Puasa | Leave a comment

Ribuan Santri Siap Tampil Dalam Festival Anak Sholeh

Festival Anak Sholeh yang digelar oleh DPD LDII Kabupaten Jember pada hari Rabu, 25 Juni 2014 menurut ketua Pelaksana, Ir. Gunawan CH, MP akan diikuti oleh lima ratusan santri dari berbagai TPA binaan PPG se wilayah Jember Utara. Sementara di wilayah Jember bagian Selatan akan dilaksanakan kemudian.

Ketua DPD LDII Kabupaten Jember, Ir. H. Sunardi, MT tahun 2014 ini mengambil tema Dengan “Festival Anak Sholeh” kita Wujudkan Generasi yang Unggul, Alim, Faqih, Mandiri dan Berakhlakuk Karimah”. Anak sebagai potensi unggul sebagai penerus perjuangan dan cita-cita bangsa menjadi tanggung jawab kita bersma untuk membentuk karakter yang baik dengan memberikan contoh-contoh yang baik dan ilmu yang bermanfaat. Dengan kaidah-kaidah ilmu Islam yang menjadi suritauladan Rosululloh, LDII siap mewujudkan cita-cita bersama, tentu saja dengan dukungan dari seluruh elemen baik orang tua, guru pendidik, ulama, dan tentu saja peranan dari pemerintah terkait.

Berbagai lomba telah disiapkan oleh panitia Festival Anak Sholeh, meliputi lomba tartil membaca Al-Qur’an, lomba cerdas cermat, lomba hafalan Al-Qur’an, lomba adzan, lomba pildacil, lomba cerita kisah para Nabi dan sahabat dll. Tentu saja panitia telah menyiapkan juri dan hadiah serta uang pembinaan bagi para peserta yang meraih juara.

Posted in Festival Anak Sholeh 2014 | Leave a comment

Yayasan Al-Manshurin Gelar Munaqosah di 34 TPA

Yayasan Al-Manshurin Jember menggelar munaqosah di 34 TPA binaan di seluruh Kabupaten Jember. Munaqosah adalah ujian tahunan bagi para peserta didik yang telah mengikuti pendidikan untuk mengevaluasi hasil kegiatan belajar mengajar setingkat TK dan SD. Yayasan Al-Manshurin adalah yayasan
pendidikan Islam dengan mengajarkan bacaan tartil, tilawah, akidah, akhlak dan budi pekerti serta hafalan Al-Qur’an, doa-doa serta sejarah-sejarah Islam dan kisah-kisah para Nabi dan utusan, kisah surga dan neraka. Munaqosah tahun ini diikuti oleh kurang lebih 2000 santri yang dilaksanakan di beberapa tempat.

Ketua pelaksana Budi Santoso menyampaikan bahwa evaluasi pembelajaran atau munaqosah ini menjadi agenda tahunan dalam proses belajar mengajar di Yayasan Al-Manshurin.

Posted in Munaqosah 2014 | Leave a comment