Go Green LDII: Ayo Cintai Lingkungan untuk Kemaslahatan Umat


Ir. H. Arief Iswanto, MSc; 
dewan pakar DPP LDII; 
pemerhati pertanian dan perkebunan

Ketika membaca tulisan ini, bisa saja musim penghujan telah tiba namun mungkin juga masih kemarau, dan mungkin pula rombangan jamaah haji Jember telah kembali menunaikan ibadah haji dari tanah suci dan padang Arofah. Mengapa padang Arofah disebutkan, karena saat ini hamparan padang pasir tersebut, sebagian besar telah dihijaukan dengan berbagai macam pepohonan. Ini menunjukkan bahwa tidak ada halangan dan batasan untuk melaksanakan Go Green. Berkurangnya kawasan hutan secara tidak langsung telah membawa perubahan dan penyimpangan iklim, termasuk di Indonesia, dan akhir-akhir ini kapan dimulainya suatu musim serta kapan musim berikutnya berakhir, sulit diprediksi.
Hijauan yang berupa kawasan hutan belantara yang sering disebut paru-paru dunia dan penyangga iklim dunia, baik hutan primer, hutan sekunder, hutan lindung, maupun hutan konservasi diperlukan untuk mencegah perubahan iklim yang ekstrim. Penyimpangan iklim ini berdampak negatif, diantaranya  terhadap terjadinya banjir bandang, mencairnya salju secara berlebihan di kedua kutub dunia, kemarau berkepanjangan, meningkatnya panas bumi, serta kebakaran hutan. Dampak lebih mengerikan seperti yang diberitakan akhir-akhir ini, oleh beberapa media, bahwa perubahan iklim secara radikal tidak lama lagi akan terjadi. Disinyalir, menurut studi yang telah dilakukan tim peneliti dari Universiy of Hawaii, sejumlah kota seperti New York dan London, tidak lagi bisa dihuni dalam 45 tahun kedepan, dan itu semua diawali akibat ulah manusia sendiri. Diperkirakan kawasan-kawasan tropik akan mengalami dampak perubahan iklim yang juga parah dan jauh lebih awal jika dibandingkan kawasan Arktik dan kawasan dunia lainnya. Seperti yang dirilis Livescince.comkota di Indonesia yang akan mengalami perubahan iklim paling awal, cuacanya paling panas adalah Manokwari, diprediksi terjadinya di tahun 2020, sedangkan Jakarta diperkirakan mengalami temperatur panas terekstrim di tahun 2029. Selanjutnya, tim dari University of Hawaii melihat lebih jauh ke suhu permukaan bumi, bagaimana satwa, vegetasi dan manusia akan merespon pola iklim baru, seperti kenaikan keasaman air laut, kenaikan permukaan air laut, dan perubahan pola musim hujan; dan gejala awal ini telah kita rasakan bersama, saat ini. Kejadian ini akan menjadi makin parah, apabila pengrusakan hutan tidak segera tertanggulangi, serta pelaksanaan penghijauan terhenti atau dihentikan.
Go Green adalah tindakan mutlak untuk setidaknya dilakukan di negara kita ini, dan artikel ini terinspirasi saat penulis sekitar tahun 1998, ditanya oleh seorang Ulama LDII, pertanyaan beliau sangat sederhana; bagaimana caranya kebun karet (luas sekitar 800 hektar), yang mengalir sebuah sungai di dalamnya, bila musim hujan tiba air sungainya tidak keruh dan tidak meluap, serta ketika musim kemarau airnya tetap mengalir, tetap cukup untuk memenuhi kebutuhan air bagi penduduk sekitar kebun, tetap dapat dimanfaatkan oleh pabrik untuk pengolahan karet. Tidak lain, jawaban penulis, harus ada hutan lindung atau hutan sekunder di kawasan kebun karet tersebut, terutama di areal yang tandus (marjinal) dan berbatuan, sebagai penyangga dan penyimpan air tanah. Direspon oleh beliau, demikian itu jalan keluar yang baik tapi jangan ditanami pepohonan penghasil kayu yang berumur pendek, karena kalau demikian nanti kawasannya dengan cepat segera gundul lagi, ditebang untuk keperluan industri. Akhirnya, terpilihlah bibit tanaman jati sebagai tanaman keras berumur panjang, untuk ditanam sebagai penyangga lingkungan, khususnya untuk mempertahankan air tanah dan upaya untuk menekan emisi carbon, khususnya di dalam kebun karet tersebut. Inilah pikiran penuh visi serta sederhana dari seorang Ulama yang peduli lingkungan dan pencinta tanaman perkebunan, dan tindakan kecil ini merupakan langkah besar untuk melestarikan air tanah, memperluas areal vegetasi dan turut berperan aktif dalam mencegah pemanasan bumi. Hasilnya setelah penghijauan dan hingga 13 tahun saat ini, tidak ada lagi masyarakat sekitar kebun karet kesulitan air di musim kemarau dan saat musim hujan luapan air sungai yang mengakibatkan banjir tidak lagi menghantui.
Disamping itu, penulis memiliki pengalaman dalam melakukan revegetasi dan reklamasi areal tambang batubara dengan memanfaatkan kompos. Sebagaimana diketahui, prosedur penambangan pada tambang batubara terbuka adalah dengan menyisihkan dan menyimpan top soil (tanah atasan) yang subur sebelum mengambil batubara sampai kedalaman 60 m. Namun ratusan hektar areal konsesi penambangan batubara, telah ditambang tanpa ijin oleh masyarakat sekitar dengan tanpa menyisihkan dan menyimpan top soil secara benar, sehingga reklamasi di areal ini sulit dilakukan, yang tertinggal adalah hamparan tanah padas berbatuan; reklamasi terpaksaa dilakukan dengan membuat lubang tanam berbagai ukuran pada bebatuan tersebut yang kemudian diisi kompos bercampur tanah. Berbagai bibit tanaman hutan dan industri seperti akasia, sengon dan karet ditanam, hasilnya 2 tahun kemudian hamparan tanah yang kehilangan top soiltersebut berubah menjadi hamparan hijauan tanaman tahunan atau tanaman keras. Aktivitas revegetasi ini ibarat yang terjadi di padang pasir Arofat, karena perhatian awalnya hanya ditujukan pada media tumbuh yaitu lubang tanam, dan bukan hamparan yang tidak memiliki tanah, seperti yang terjadi di bekas tambang batubara diatas dan di padang pasir.
Selanjutnya, dalam musim hujan tahun ini, adalah saat yang tepat untuk musim tanam, salah satu agenda tahunan Pemerintah Daerah Kabupaten Jember adalah melakukan serangkain kegiatan peduli lingkungan, mari kita turut berpartisipasi mendukung kegiatan tersebut, dengan turut menanam minimal satu bibit, dan LDII sebagai lembaga keagamaan, yang juga peduli lingkungan, akan turut serta mendukung program tahunan tersebut. Mari jadikan Jember, sebagai bagian dari paru-paru dunia, dalam menyediakan lingkungan hidup yang sehat bagi generasi penerus mendatang.

About jemberldii

Membangun Aqidah Umat dengan Ilmu dan Hikmah, Berakhlakul Karimah dan Memiliki Kemandirian
This entry was posted in Cintai Lingkungan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s