MUI Kumpulkan Ormas Islam Jember Bahas Ukhuwah Islamiyah

RM Lestari Jember, Senin (24/11) Sejumlah Ormas Islam berkumpul bersama dalam rangka sosialisasi kerukunan umat beragama yang diadakan oleh Kantor Kementrian Agama Jember. Sebagai pemateri acara itu Dr. Abdul Majid Pujiono, M.Ag ( PCNU ), Dr. Kasman (Muhammadiyah), Dr. H. Faisol (Al-Irsyad), Drs. H. Sunardi, MT ( LDII), dan Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA. ( Salafi ). Drs. H. Hamam, M.Hi mewakili Kepala Kemenag Jember menyampaikan bahwa Acara ini merupakan program kementrian agama jember untuk mewujudkan silaturahim antar ormas islam sehingga terjalin saling mengenal (ta’aruf), dialog (tabyyun), memahami (tafahum) dan toleransi (tasamuh). 
Kemenag berharap acara ini bisa mencerminkan keharmonisan tokoh ormas islam menuju jember yang lebih kondusif, karena belum lama ini ada riya’riya kecil yang terjadi antar ormas islam, apalagi tahun 2014 kita akan menghadapi pesta demokrasi baik pileg maupun pilpres akan banyak peluang yang bisa menyebabkan konlik, ujarnya. Selain itu Jember adalah Kabupaten yang potensial karena ada banyak pondok pesantren dan beberapa ormas islam. Acara yang bertajuk Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah dalam Perspektif Keislaman danKebangsaan juga dihadiri oleh Kepala KUA dan Ketua MUI Kecamatan Se-Jember.
Ketua MUI Jember, Prof Dr. KH. Abdul Halim Soebahar menuturkan selama ini ormas sering diundang sebagai peserta dan Kemenag stau MUI yang menyampaikan materi, maka sekarang semua Ketua Ormas Islam diminta untuk memberikan pandangannya tentang konsep mewujudkan Ukhuwah Islamiyah Dalam Perspektif Kebangsaan. Halim menambahkan MUI Jember sangat apresiasi terhadap semua Ormas Islam yang siap berdmapingan dengan MUI untuk mewujudkan Ukhuwah Islamiyah. Apalagi Ketua Ormas Islam di Jember dipenuhi generasi muda, Semuanya Doktor, hanya satu yang Calon Doktor yaitu dari LDII tapi baru saja datang haji, sehingga bisa menambah barokah, ujarnya.
Dr. Kasman, Ketua Muhammadiyah sebagai pembuka materi menyampaikan bahwa perbedaan antar ormas islam adalah rohmat yang tidak perlu dipermasalahkan, sehingga ada beberapa langkah untuk mewujudkan ukhuwah islamiyah.
Langkah-langkah yang dimaksud adalah :
1.   Menyamakan persepsi dalam ukhuwah islamiyah karena ukhuwah tidak harus seragam, tapi ada ruang untuk mencari persamaan. Walaupun ada kebebasan tapi harus bijaksana dalam pelaksanaanya.
2.     Menggalakkan taaruf dan tafahum (saling mengenal dan memahami), ada forum dialog yang bertujuan untuk saling mengenal dan memahami bukan untuk saling menjatuhkan.
3.      Menghindari politisasi agama
4.     Bekerjasama untuk bersinergi membangun umat sesuai dengan potensinya masing-masing
Menyambung dari Muhammadiyah, Ketua Al Irsyad Dr. Faisol menuturkan bahwa kita bersyukur hidup di Indonesia yang memberikan kebebasan berkeyakinan sesuai dengan amanah UUD 1945. Hal ini beda dengan Malaysia yang hanya menganut satu aliran saja, yaitu Ahlus Sunah Wal Jamaah, sambung Doktor yang pernah mengenyam pendidikan di Malaysia ini.
Sebagai tokoh agama, Faisol berharap mencerminkan sikap ta’dhim kepada ulama karena ulama’ adalah pewaris para nabi. Dengan sikap ta’dhim ini akan terbentuk saling menghargai dan menghormati satu sama lain dan akhirnya ukhuwah bisa terwujud.
Mewakili PCNU, Dr. Abdul Majid Pujiono, M.Ag menyampaikan bahwa ada beberapa factor penyebab retaknya ukhuwah yaitu :
1.       Pemahaman yang berbeda tentang Islam
2.       Tidak Memahami pendapat Pihak Lain
3.       Suudhon/negative thinking
4.       Tuduhan bahwa saya yang paling benar
Menyikapi hal itu, Dosen Pasca STAIN memberikan beberapa solusi yaitu :
1.       Meningkatkan dialog : adanya ta’aruf, saling mengenal latar belakang
2.       Tafahum : saling memahami kelebihan, kekurangan, kekuatan dan kelemahan
3.       Tabbayun : Saling klarifikasi
4.       Menekankan 4 Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI)
Sedangkan LDII melalui Ketuanya, Drs. H. Sunardi, MT memperkuat apa yang disampaikan PCNU, bahwa sebagai jembatan antar ormas Islam adalah 4 pilar kebangsaan. Yang dimaksud 4 pilar itu adalah Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Kita tentu masih ingat bahwa Negara ini dibentuk atas dasar perbedaan suku, budaya, bahasa dan agama. Sumpah Pemuda sebagai tonggak awal muncul kesepakatan satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa yaitu Indonesia, lanjut Sunardi yang baru semingga datang dari ibadah haji. Selain itu LDII menawarkan konsep menerapkan 6 Tabiat Luhur sebagai langkah mewujudkan Ukhuwah Islamiyah Dalam Perspektif Kebangsaan. Yang dimaksud 6 Tabiat luhur adalah Jujur, amanah, mujhid muzhid, rukun, kompak, dan kerjasama yang baik.
pendidikan,budaya pemikiran, ide dan cita-cita sert problematika kehidupan.
1.   Rukun adalah sifat/tabiat pribadi orang Islam yang tidak mempunyai uneg-uneg, prasangka jelek, dengki, srei, iri hati kepada sesamanya. Saling mengasihi serta bantu membantu dalam kebaikan, tolong menolong, kuat memperkuat, saling mendoakan yg baik, bersikap ramah terhadap sesama (WAJAH AJER), keporo ngalah. Akibat Rukun dapat mengakumulasikan potensi2 sehingga mendapatkan kekuatan prima. (dapat mensukseskan program).
2.    Kompak adalah bersama-sama melakukan kegiatan yang disepakati (komitmen) dilakukan dengan giat, senang, gembira, seiya sekata, sak yek saeko proyo, holopis kuntul baris.
3.    Kerjasama adalah sikap orang Islam yg saling peduli, saling mendukung, saling melancarkan, tidak jegal menjegal, tidak jatuh menjatuhkan, tidak rugi merugikan, tidak fitnah menfitnah. Kerjasama dengan saling menguntungkan.
4.   Jujur adalah sikap pribadi orang islam, suka berkata benar, tidak dusta, tidak menipu, polos (apa adanya). JUJUR dan SIDIK adalah satu sifat kenabian disamping amanah, tablig dan fatonah
5. Amanah adalah bisa dipercaya dan menjaga kepercayaan, tidak berhianat (tidak merusak kepercayaan), dan menyampikan hak kepada orang yang berhak menerimanya. Amanah adalah sikap mulia disukai banyak orang.
6.      Mujhid Muzhid adalah dalam kehidupan sehari-hari bekerja giat, semangat dan berhasil serta kurup sesuai dengan pekerjaannya. Muzhid, dalam kehidupan sehari-harinya bisa mengatur penghasilan dengan pola hidup hemat, gemi setiti ngati-ati (hemat, cermat, hati-hati) tidak boros dapat mengukur kemauan dan kemampuan. Mujhid Muzhid bisa juga diartikan hidup efektif dan efisien.

Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA. Sebagai pemateri terakhir mewakili Salafi menekankan bahwa perdebatan tidak harus ditakuti karena dengan mengedapankan etika dan tabayyun bukan debat yang ingin menjatuhkan atau saling menjegal. Doktor lulusan Madinah ini juga siap mengadakan dialog yang lebih lama sehingga antar ormas Islam bisa saling mengenal.

About jemberldii

Membangun Aqidah Umat dengan Ilmu dan Hikmah, Berakhlakul Karimah dan Memiliki Kemandirian
This entry was posted in MUI Kumpulkan Ormas Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s