Pancasila Menyelesaikan Perbedaan dan Gesekan Sosial

KH. As’ad Said Ali yang diberikan kesempatan pertama dalam pemaparan sebagai nara sumber Sarasehan Kerukunan Umat Bernegara Berdasarkan Pancasila (25/11) di Universitas Jember.

KH. As’ad dalam mukadimahnya bercerita bahwa 2 tahun yang lalu beliau sempat diundang ke Medan. Sekembalinya dari acara beliau didatangi oleh beberapa tokoh dan ketua Budha yang bernama Dr. Indah. Dr. Indah meminta kepadanya untuk bisa membantu menyelesaikan gesekan yang terjadi antara umat Budha dan Islam yang sedang terjadi.
Diceritakan bahwa disuatu kabupaten di Sumatera Utara Ummat Budha membangun patung Budha di Vihara yang dibangun di tengah lapang di wilayah publik. Dalam proses pembangunannya sampai selesai tidak terjadi masalah dan gesekan, terang Indah. Tatkala proses pergantian kepala daerah muncul gesekan-gesekan dengan isu dan provokasi sehingga timbul demonstrasi yang berkepanjangan hingga terjadi gesekan tersebut.

Patung Budha itu dibangun setinggi 6 meter rupanya menjadi titik provokasi karena terletak di barat dianggap ummat Islam melalukan ibadahnya menghadap patung, terlebih menjelang Pilkada. Saya sempat bertanya berapa jauh letaknya kurang lebih 1km, Subhanalloh, puji As’ad. Lalu saya menghubungi perwakilan NU di Sumatera Utara untuk dapat bertemu dan menyelesaikan perselisihan tersebut. As’ad menawarkan menurut Pancasila yang saya fahami seperti Nabi dulu di Madinah yang disana tinggal berbagai agama tetapi dapat hidup rukun tanpa saling mencela. win-win solution kepada kedua pihak semestinya membangun patung di tempat umum kulonuwun dulu, diharap bisa membangun pagar separo patung dan didepannya untuk menutupi supaya juga di tanami pohon-pohonan sehingga selesailah perselisihan tersebut. Pancasila memberikan jalan yang baik tapi dengan cara yang jernih sebagai sumber penyelesaian terkait perselisihan yang terjadi dalam kerukunan ummat beragama adalah solusi terbaik, terang As’ad.

Masyarakat kita adalah masyarakt yang komunal/kebersamaan, seperti kalau kita pidato saja ihwan-ihwati, saudara-saudari, kalau di luar itu ladies and gentelment. Jelas ada perbedaan, antara masyarakat timur dengan persaudaraan dengan kalau di luar pribadi/individualisme, memang budayanya berbeda. Persaudaraan dan individualisme bisa saja disandingkan apalagi tapi tidak boleh hegemoni antara yang satu dengan yang lain

KH. As’ad yang juga wakil ketua PBNU tersebut menyayangkan terjadinya gesekan antar agama, suku dan kepentingan yang sering terjadi semenjak revormasi di Indonesia, lebih parah lagi gesekan-gesekan tersebut sering terjadi karena kepentingan dari pemangku kepentingan. Seperti yang terjadi di atas, yang membikin isu dan terjadinya gesekan adalah imbas dari pilkada. Pancasila sebagai pemersatu dalam keharmonisan kehidupan bangsa kita memberikan solusi terbaik dalam keberanekaragaman sosial masyarakat kita.
As’ad juga mencatat gesekan yang terjadi setelah revormasi justru lebih banyak gesekan antara muslim dengan muslim:

  1. gesekan Islam dengan non Islam ±628 kali
  2. gesekan Islam dengan Islam ±907

Banyak aliran yang antri mendaftar yang induknya berada di luar negeri yang jelas secara struktur dan budaya sudah berbeda, ini mengakibatkan ukuran persamaan dan rujukannya mereka ke negara tersebut. Sedangkan struktur dan budaya masyarakat Indonesia sejak dulu tidaklah sama dengan negara lain. Sejak jaman Majapahit kultur budaya tasammu (kebersamaan) sudah ada, meskipun masyarakat kita berbeda tetapi tetap satu menjaga keharmonisan dilandasi kerukunan.

Budaya barat yang sering menjadi contoh dan dicoba untuk diterapkan di Indonesia kadang kala justru menjadi pemicu gesekan, jelaslah tidak sama struktur budaya mereka dengan struktur budaya kita.

Reformasi dan dan faktor kondisional menjadi faktor provokasi timbulnya gesekan, karena masing-masing memiliki budaya. Pancasila itu sebagaimana rumah, kita sebagai rumah tangganya, antar rumah tangga bisa saja berantem tapi bisa diselesaikan dengan aturan bersama. Kepentingan Pancasila sebagai rambu-rambu kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam era revormasi ini harus ada aturan, tetep saya menganggap sebagai subtansi UU No.1 2005 sebagai kebaikan banyak manfaatnya daripada mudlorotnya. Disitu memberikan kebebasan beragama, hanya saja bahasa penodaan agama lebih diperhalus. Negara tetap menjadi mediasi tapi melalui hukum tapi itu aja tidak cukup, ada satu lagi yang harus dilakukan. Negara harus memfasilitasi tindakan prefentif bersama, maksudnya bagaimana diciptakan antara komunitas bersama baik Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, dll itu dalam aturan main bersama. Ekslusifisme jangan ditonjolkan, saling bersinggungan akidah juga tidak, harus difahami bahwa kita mempunyai budaya dan kultur, dan mau tidak mau harus melaksanakan HAM PBB. NKRI dengan Islam adalah kesatuan, kebangsaan dan Islam itu adalah satu kesatuan tidak bisa dipisahkan. Wakil ketua PBNU ini pernah berbicara dengan Tri Sutrisno mengartikan jihad adalah jihad bil naf dan bil kolbi dalam arti luas bagaimana membangun kebersamaan, membangun  kemakmuran sesuai konsensus bersama.

Berita Terkait:

  1. Universitas Jember gelar Sarasehan Pancasila
  1. Pancasila di mata LDII

About jemberldii

Membangun Aqidah Umat dengan Ilmu dan Hikmah, Berakhlakul Karimah dan Memiliki Kemandirian
This entry was posted in KH.As'ad. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s