Wawancara Ekslusif Ketua BNPN, Brigjen Samsul Maarif

 “Stop  Mengejek  untuk menghindari konflik”
Banyak orang prihatin, sedih, ngeri bahkan gemes dengan berbagai konflik yang akhir-akhir ini sering terjadi. Pelbagai perasaan itu tertuang dalam macam-macam ekspresi.    

Ada yang menyalahkan petugas karena tidak tegas, ada yang membicarakan dipanggung diskusi sampai berbusa-busa, ada yang ngedumel tidak tentu arahnya, ada yang mencoba menyusun kurikulum agar pendidikan karakter masuk dalam mata pelajaran sekolah, dan masih sederet aktifitas ekspresi. 

Dari sekian orang yang prihatin tersebut, adalah Brigjend (purn) Syamsul Maarif, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pada suatu kesempatan ngobrol, Syamsul menyampaikan filosofis kehidupannya setelah purna tugas dari TNI. “Saya paling senang makan ikan laut bagian ekor, rasanya gurih memakannya mudah”. Bagi orang yang biasa, bisa jadi itu kesenengan semata. Namun tunggal guron (mencari ilmu pada orang yang sama) maknanya menjadi lain. Ekor ikan adalah pengendali berjalannya ikan di air. Beliau senang ekor, berarti senang ikut menentukan sesuatu arah yang besar. Bisa saja peran itu tidak kelihatan, dan memang sengaja tidak diperlihatkan.

Ditengah-tengah sibuk mempersiapkan jabatan Guru Besarnya, Kaffahsempat mewawancarainya di Kampus FISIP UNEJ. Khususnya terkait tawuran pelajar dengan pendidikan nkeluarga. Berikut petikannya.
K: Akhir-akhir ini banyak konflik horisontal maupun vertikat terjadi di Indonesia. Hal ini banyak dipicu oleh pendidikan keluarga. Pendapat pak Syamsul.?
S:   Hirarki negara dimana negara terdiri berbagai kelompok, dan kelompok itu terdiri dari berbagai keluarga. Tentu jika dicari ada kaitannya antara kerusuhan yang ada di Indonesia dengan pendidikan anak, tetapi sejauh mana signifikan itu tidak bisa dikatakan semua permasalahan itu berasal dari pendidikan anak dalam keluarga. Perlu adanya konteks makro tetang sebuah konflik itu bisa terjadi atau karena kesenjangan sekarang terjadi akibat tuntutan tertentu. Kebanyakan konteks makro sebuah negara bahwa kesempatan yang ada bisa diberikan yang sama. Contoh anak sekolah bukan sekolah favorit sehingga ada kesenjangan kelompok atas dan bawah. Tidak ada sekolah yang memiliki kesadaran dimana konflik beradapan antara satu kelompok sekolah dengan kelompok sekolah lain, ada hubungan simetris.
K:      adakah pendidikan dalam keluarga yang perlu reorientasi.?
S:   Keluarga merupakan unit analisis mikro,  ada norma yang memperkeruh psikologi anak, sehingga memicu terjadinya konflik, misalnya broken home. 70% perceraian ada permasalahan di keluarga, anak sebagai akibat, karakter terbentuk karena keadaan keluarga. Dalam perkembangan pendidikan, anak pun bisa merumahkan fisik, tapi tidak dengan psikologi, artinya anak tidak betah dirumah. Sebenarnya ada hubungan konflik yang terjadi di Indonesia dengan pendidikan dalam keluarga akan tetapi bukan penyebab tunggal.
K :      Maksudnya.?
S:   Ada faktor makro, ada faktor mikro, dan ada faktor diantara keduanya, yaitu lingkungan salah satunya sekolah anak. Sekolah terdapat guru yang mengembangkan jiwa kolerasi. Berawal dari “Guyonan” akibatnya timbul kekerasan. Sering mengejek ada rasa menjadi pahlawan dengan cara negatif.
K :      Solusinya. ?
S:   Agar semua bisa seimbang syaratnya yaitu revolusi total,  guru sebagai fasilitator, semua siswa dihargai tidak perlu adanya ranking. Stop builing (ejek) untuk menghindari konflik, karena dari ejekan akan timbul menjadi anak yang heroisme.
K: Pak syamsul sendiri memperlakukan anak-anaknya.?
S:   anak-anak saya adalah tanggung jawab saya, sampai tua pun mereka tetap dianggarkan dalam keluarga, sehingga ikatan anak dan orang tua itu ada, dan saya mengajarkan pada anak-anak saya, bahwa bapak bukan idola sehingga dengan cara itu saya tidak otoriter”. **)

About jemberldii

Membangun Aqidah Umat dengan Ilmu dan Hikmah, Berakhlakul Karimah dan Memiliki Kemandirian
This entry was posted in Wawancara Ekslusif BNPN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s