Jurnalism, Islam dan Peran Ulama


disampaikan dalam Training Jurnalistik, DPD LDII Kabupaten Jember, 23 April 2013

A. Pengantar

Jurnalisme secara sederhana berarti pewartaan; yaitu proses mencari dan memperoleh data atau berita dari sumber, lalu mengemas dan menyampaikannya ke publik melalui media yang ada; baik cetak maupun elektronik.
Dalam buku Jurnalistik; Teori dan Praktik dikemukakan, bahwa Jurnalisme atau Journalism berasal dari kata journal, yang berarti catatan harian, atau catatan mengenai kejadian sehari-hari (Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat: 2005) 
Islam adalah nilai dan tatanan yang sumber utamanya dari Allah Swt melalui Nabi Muhammad Saw untuk seluruh manusia. Islam lebih merupakan jiwa bagi pers atau jurnalisme, bukan salah satu mazhab atau teori bagi jurnalisme. Karena itu tidak perlu ada istilah Jurnalisme Islam sebagai mazhab. Kalaupun ada, lebih tepat diartikan sebagai Jurnalisme tentang Islam atau jurnalisme yang berintegrasi dengan nilai keislaman, yaitu ketauhidan.
Peran ulama sebagai “waratsatul anbiya’” tentu sangat penting, dan yang harus diwarisi para ulama bukan hanya ilmunya, tetapi sekaligus juga akhlak dan ibadahnya. Dalam konteks sekarang, idealnya ulama bukan hanya melalukan “dakwah bil lisan”, tetapi sekaligus diharapkan melakukan “dakwah bil hal” dan “dakwah bil qalam” sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw, para Sahabat, Para Tabi’in, Para Tabiut Tabi’in, Para Walisongo, para Ulama, dan para tokoh penyebar Islam di Bumi Nusantara ini.
B. Islam dan Jurnalisme
Dalam Islam, dunia jurnalistik dan pers bukan hal baru. Banyak ayat-ayat al-qur’an yang memberitakan hal tersebut. Rasulullah Saw sebagai uswah hasanah telah memanfaatkan risalah sebagai media komunikasi. Walaupun Rasulullah Sawadalah seorang yang ‘ummi (buta huruf), surat menyurat bisa tetap terlaksana berkat bantuan para sahabat Nabi yang pandai membaca-menulis. Dakwah bil qalam (dakwah dengan tulisan) yang dilakukan oleh Rasulullah Saw menunjukkan bahwa landasan jurnalistik telah digagas oleh Rasulullah Saw sesuai dengan kondisi dan kemajuan umat Islam kala itu. 
Sekarang banyak jurnalis hebat yang pandai meng-cover berita atau kejadian, lalu menuliskannya lewat media. Dalam Islam, profesi  jurnalis banyak dilakukan oleh para sahabat Nabi Muhammad Saw. Para sahabat Nabi Saw banyak yang menhjadi penulis wahyu. Bahkan banyak diantaranya yang telah memberitakan tentang pribadi Rasulullah Saw, baik perkataan, perbuatan atau ketetapan beliau yang kemudian dibukukan sebagai Hadits. Merekalah wartawan terbaik sepanjang masa, karena berkat merekalah risalah Islam bisa tersebar dengan luas dan bisa dibaca sampai generasi dan masa kita.
Al-Qur’an sebagai sumber sejarah paling otentik dan valid sepanjang zaman ternyata memiliki fungsi dan peran jurnaslitik yang cukup tinggi. Buktinya, di dalam Al-qur’an terdapat ayat-ayat yang mengandung unsur jurnalistik. Misalnya dalam surat An-Naba’ ayat 2:   عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ “ Tentang berita yang besar.”
Dan surat Al-Kahfi ayat 56:
وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ وَاتَّخَذُوا آَيَاتِي وَمَا أُنْذِرُوا هُزُوًا (56)
Dan tidaklah kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan- peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.”
Selain itu, masih banyak ayat-ayat al-qur’an yang memiliki unsur-unsur jurnalistik, seperti termaktub dalam surat Alu Imran ayat 44, An-Nisa’ ayat 83 dan 165, Al-Maidah ayat 19, 41, dan 42, At-Taubah ayat 70 dan 33 surat lainnya dalam Al-Qur’an yang memiliki unsur dan bermakna jurnalistik dengan segala varian dan bentuknya.
Islam memuat nilai dan tatanan yang komprehensif. Islam lebih merupakan jiwa bagi pers atau jurnalisme, bukan salah satu mazhab atau teori bagi jurnalisme. Karena itu tidak perlu ada istilah Jurnalisme Islam, sebagai mazhab. Kalaupun ada, mungkin lebih tepat diartikan sebagai Jurnalisme tentang Islam atau tentang orang-orang Islam.
Selain itu, masih banyak ayat-ayat al-qur’an yang memiliki unsur-unsur jurnalistik, seperti termaktub dalam surat Alu Imran ayat 44, An-Nisa’ ayat 83 dan 165, Al-Maidah ayat 19, 41, dan 42, At-Taubah ayat 70 dan 33 surat lainnya dalam Al-Qur’an yang memiliki unsur dan bermakna jurnalistik dengan segala varian dan bentuknya.
Islam memuat nilai dan tatanan yang komprehensif. Islam lebih merupakan jiwa bagi pers atau jurnalisme, bukan salah satu mazhab atau teori bagi jurnalisme. Karena itu tidak perlu ada istilah Jurnalisme Islam, sebagai mazhab. Kalaupun ada, mungkin lebih tepat diartikan sebagai Jurnalisme tentang Islam atau tentang orang-orang Islam.
Kita bisa mengambil inspirasi dari empat sifat Rasululllah Saw; shiddiq (jujur dan dipercaya), amanah (pertanggung-jawaban), tabligh (menyampaikan semua tanpa ada yang disembunyikan) dan fathanah (cerdas dan mencerdaskan), ketika kita mencoba membicarakan nilai keislaman dalam jurnalisme. Pembicaraan ini sebagai salah satu upaya kita mengkritisi pers dan media agar memiliki pertanggungjawaban sosial, dalam melakukan kerja-kerja jurnalisme.
C. Peran Ulama
Peran ulama sebagai “waratsatul anbiya’” tentu sangat penting, dan yang harus diwarisi para ulama bukan hanya ilmunya, tetapi sekaligus juga akhlak dan ibadahnya. Dalam konteks sekarang, idealnya ulama bukan hanya melalukan “dakwah bil lisan”, tetapi sekaligus diharapkan melakukan “dakwah bil hal” dan “dakwah bil qalam” sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw.
Para Sahabat, sebagai penulis wahyu, penggagas kodifikasi al-qur’an, dan perawi hadits tentu sangat berjasa bagi kita. Berkat jasa para ulama tersebut kita bisa membaca dan mengkaji al-qur’an dan kitab-kitab hadits
Para Tabi’in, tentu jasanya tidak kecil dalam pengembangan ajaran Islam. Ketika al-qur’an belum memiliki tanda baca, Ulama pelopor ilmu nahwu  Al-Imam Abul Aswad Ad-Duali yang berhasil melengkapi huruf al-qur’an dengan syakal pada hurufnya. Selain itu, ulama besar Yahya bin Ya’mur (w. 100 H) beliau berhasil melengkapi bacaan al-qur’an dengan titik-titik. Dengan jasa beliau, kita  dimudahkan membaca al-qur’an, sehingga jelas yang dibaca a, i, u, dan sebagainya dan jelas pula perbedaan yang harus dibaca ba’ dan ya’, atau ta’ tsa’, dan sebagainya 
Demikian halnya, jasa Para Tabiut Tabi’in, Walisongo, Ulama, dan tokoh penyebar Islam di Bumi Nusantara ini, tentu sangat besar. Karena dari merekalah “sanad” kita belajar membaca, menulis dan sebagainya.
Kita menjadi jelas, bahwa berita bukan sekedar berita. Berita tidak netral dari sebuah nilai. Jurnalis Muslim harus yakin benar bahwa apa yang ditulisnya akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Karena itu, merekayasa berita bohong adalah sebuah dosa. Seorang Muslim harus berusaha konsisten dengan janji keislamannya bahwa ajaran Islam mengatur semua aspek kehidupan manusia.
D. Penutup
Ringkas kata, besarnya jasa para pendahulu kita harus kita lanjutkan. Calon-calon jurnalis yang sekarang sedang mengikuti training jurnalistik akan berimplikasi besar bagi pengembangan ajaran Islam.
Kita harus yakin, bahwa apa yang akan kita lakukan, memiliki persambungan dengan misi yang dikembangkan Rasulullah Saw, para Sahabat, para Tabi’in dan Tabiut Tabi’in, para Walisongo, para Ulama dan guru-guru kita.
Sehingga kita harus yakin, dengan bismillah, bahwa kebahagiaan dunia dan akhirat pasti kita raih berkat Rahmat Allah, Wallahu A’lam.

About jemberldii

Membangun Aqidah Umat dengan Ilmu dan Hikmah, Berakhlakul Karimah dan Memiliki Kemandirian
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s