Tak Mau Nyepi di Bali, Berwisata ke Tanjung Papuma

Pagi ini (12/3) Cak Lek dari sekian banyak rombongan muda-mudi LDII Bali bangun dengan ceria dan segera mandi pagi menikmati segarnya air Jember. Diiringi gandangan (nyanyian) arabian “Inannisaa khuliqna lakum – Wakullukum tuhibbu…..” (sesungguhnya wanita itu diciptakan untuk kalian laki-laki – dan kalian laki-laki sama senang dan ingin menciumnya). Semangat pagi Cak Lek juga rupanya diiring rekan muda-mudi lainnya, pasalnya pagi ini pantai indah Papuma akan segera dikunjungi. Cerita keindahan Papuma yang katanya tidak kalah dari pantai-pantai indah pulau Dewata Bali membuat sebagian muda-mudi LDII Bali penasaran ingin segera melihatnya. Dengan semangatnya Cak Lek mengumandangkan suara adzan subuh membangunkan rekan-rekan yang lain untuk segera bangun dan bergegas mengambil air wudzlu dan bersama-sama melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid Al-Manshurin Jember. Masjid Al-Manshurin yang terletak di utara kurang lebih 1km dari RS. dr. Subandi dan sebelah barat Taman Makam Pahlawan (TMP) dengan luas kurang lebih 900m2. Masjid yang berlantai dua dan berhalaman luas inilah yang menjadi tempat singgah rombongan muda-mudi LDII Bali dan sekedar menghilangkan lelah selama berkunjung ke Jember. Dengan beralaskan karpet dan bantal mereka para muda-mudanya menikmati hari-hari indah menggoreskan kenangan bersama Jember. Sementara mudi-mudinya tidur di wisma tamu DPD LDII Kabupaten Jember yang berkasur empuk dan selimut tebal, walaupun harus berbagi tempat tidur tapi kenangan ini akan menjadi sejarah bahwa mereka pernah singgah dan tidur di sana. Apalagi saking nyenyaknya bunga tidur menghampirinya dan pagi-pagi harus bergegas karena ada sesuatu yang membasahi celananya…. hehehe….. maklum joko tole lagi bangun.

Bersama bis armada “PRAWIRA DEWATA” yang di sopiri Paijo dan Made sebagai kernetnya melajulah bus ke arah pantai Tanjung Papuma Jember. Sepanjang perjalanan bus melaju dengan pelan dan lancar. Tanjung Papuma yang berada di Kecamatan Ambulu berjarak kurang lebih 37km ditempuh oleh rombongan kurang dari 1 jam. Tanjung Papuma yang berdampingan dengan Pantai Watu Ulo dan harus melewati jalan memutar padahal satu arah dengan Watu Ulo menjadi pertanyaan beberapa orang. Yaa… pasalnya pengelolaan keduanya yang berbeda Watu Ulo dikelola oleh Pemda, sedangkan Tanjung Papuma dikelola oleh Perhutani.

Setelah melewati loket pembayaran, rombongan harus berjalan dan sebagian diangkut dengan mobil, yaa… pasalnya bis tidak diperbolehkan naik ke lokasi dikarenakan jalan yang akan dilalui tidak di sarankan untuk bis, informasi dari pengelola Tanjung Papuma bukit yang di atas belum lama mengalami longsor, sehingga untuk bis dilarang naik ke atas.

Kurang lebih 2 jam rombongan bernostalgia di Tanjung Papuma yang katanya tidak kalah dengan suasana Bali. Mungkin ucapan mereka karena saat ini Bali seperti kota mati dan tidak ada aktivitas tak terkecuali di pantai Sanur, Kuta, Jimbaran, Tanah Lot, dll.

About jemberldii

Membangun Aqidah Umat dengan Ilmu dan Hikmah, Berakhlakul Karimah dan Memiliki Kemandirian
This entry was posted in Wisata Tanjung Papuma. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s