Malam itu aku terbangun atas mimpi yang terpotong bersama bidadari, suara merdunya dengan selendangnya yang indah menutupi seluruh tubuhku terasa sangat menyesakkan hatiku nan penuh keindahan. Tersentak aku dalam bisikan : bangun dan berdoalah tuk mendapatkanku hai tuanku. Dalam lamunanku menarik semangatku tuk segera berwudlu, sholat dan berdo’ di sepertiga malam terakhir mengangankan tuk dapat menikmati hangatnya mimpi bersama sang bidadari. Hembusan nafasnya terasa dekat menyentuh tengkukku serasa tubuhku terjatuh dalam sujud yang berpanjangan. Tetes air mata dan rengekan tangsiku pecah saat teringat betapa besar dan banyaknya dosa telah aku perbuat selama ini, akankah selendangmu (bidadariku) akan mampu menyelimuti dinginnya malam-malam kelamku? Ooooooh…… Robbi, Tuhannya seluruh bidadari dan segala keindahan dalam mimpiku. Akankah aku dapatkan mimpiku yang terpotong ini?

Duhai pengharapanku, sampaikan salam manis dan rasa cintaku atas bayangan yang selalu menjadi rinduku dalam mimpi-mimpi terindah itu. Datanglah wahai bidadariku, ingin rasanya aku terhanyut dalam mimpi sepanjang hidupku bersamamu.

Sepotong surat cinta
untuk bidadari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s