Ketua DPD LDII  Kabupaten Jember, Drs. Sunardi, M.T., mengutuk aksi bom bunuh diri di Masjid Mapolres Cirebon, Jumat 15 April 2011. Terlepas kepada siapa bom itu ditujukan, hal itu merupakan tindakan yang terkutuk. Bunuh diri sangat dilarang dalam agama Islam dan dalam suatu hadist “orang yang bunuh diri diakhirat nanti akan disiksa sebagaimana dia melakukan bunuh diri”. Apalagai bunuh dirinya itu justru membawa malapetaka dan kesengsaraan orang-orang yang tidak berdosa, terlebih terhadap kaum muslimin yang sedang melaksanakan sholat Jum’at. Sungguh nista dan terkutuknya perbuatan itu, jelas Abdullah Syam.

Apa yang terjadi di Cirebon dikhawatirkan merupakan upaya adu domba antara umat Islam dan masyarakat yang lain. Karena itu, umat Islam diminta untuk tetap tenang dan waspada sehingga tidak terjadi hal-hal yang malah menambah resah masyarakat. Sunardi meminta kepada aparat kepolisian untuk segera menindak tegas para pelaku dan segera mengkondisikan kota Cirebon tetap dalam suasana kondusif.

Dilansir dari Harian Seputar Indonesia:
Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam mengungkapkan, personel kepolisian yang terkena ledakan bom antara lain Kapolresta Cirebon AKBP Herukoco,Kepala Bagian Sumber Daya Manusia Kompol Suhadi,Kepala Satuan Intelijen dan Keamanan AKP Singgih, Kepala Satuan Lalu Lintas AKP Kurnia, Kepala Unit Profesi dan Keamanan Ipda Budi.

Sisanya, empat orang pegawai negeri sipil di lingkungan Mapolresta Cirebon, seorang warga yang tengah menjalankan ibadah salat Jumat, dan seorang ustaz. Sebagian besar korban luka masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Pelabuhan Cirebon dan Rumah Sakit Pertamina Cirebon. Adapun jenazah pelaku dibawa ke RS Kramat Jati, Jakarta, untuk diidentifikasi lebih lanjut. Sebagian besar korban terluka akibat elemen bom yang dibawa pelaku.

Sejumlah elemen yang diketahui berupa paku, baut, mur, hingga lempengan logam alumunium. Pemerintah mengutuk keras aksi teror bom di Masjid Mapolresta Cirebon dan menilai aksi tersebut sebagai tindakan tidak berperikemanusiaan. Kecaman juga disampaikan sejumlah kalangan, termasuk ormas keagamaan dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Amir Jamaah Ansharut Tauhid, Abu Bakar Ba’asyir, melalui asisten pribadinya, Hasyim Abdullah, juga mengecam bom bunuh diri di masjid.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto mengatakan, aksi teror tersebut telah merusak kedamaian dan mengganggu upaya menciptakan perdamaian. ”Ternyata masih ada masyarakat yang bertindak di luar kemanusiaan,” katanya seusai memimpin rapat koordinasi bidang politik hukum dan keamanan di Jakarta kemarin.

Djoko pun menuntut polisi untuk mengungkap pelaku terorisme, termasuk mengungkap kemungkinan modus baru yang diduga digunakan teroris dengan mengubah target sasaran dari warga negara asing dan simbol-simbolnya menjadi aparat pemerintah termasuk Polri.”Yang penting siapa di balik peristiwa tersebut,” katanya. Mabes Polri belum bisa memastikan siapa dan kelompok apa pelaku terorisme tersebut.

Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo yang turun ke lokasi kemarin sore mengatakan, pihaknya masih melakukan pengembangan penyelidikan. Sejauh ini polisi baru memperkirakan pelaku berusia sekitar 20-25 tahun dengan tinggi badan sekitar 170 cm. Tersangka meledakkan bom yang ditaruh di badannya sehingga bagian perut kanan pelaku mengalami luka parah. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutanto meyakini pelaku teror merupakan kelompok lama.

”Ada pelaku yang tewas di TKP,mudah-mudahan dari sana bisa dikembangkan. Berdasarkan pengalaman sejak 2000,jaringan tetap itu-itu saja. Tapi, pelakunya baru. Mereka berhasil merekrut pelakupelaku baru,” ujar mantan kepala Polri itu. Menurut dia,selama ini BIN berhasil menggagalkan rencana aksi terorisme. Banyak dari mereka yang juga sudah ditangkap.

Hal ini diduga membuat para pelaku meningkatkan kewaspadaan sehingga mengubah pola dan taktik. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyad Mbai menuturkan, pengungkapan kasus ini harus dengan melihat rekam jejak para pelaku yang selama ini melakukan teror. ”Dan ini banyak.Tentunya juga dengan berbekal hasil investigasi dan pengadilan,”tambahnya. Pengamat intelijen Andi Wijayanto menilai, serangan terhadap Kompleks Mapolresta Cirebon adalah rangkaian serangan dengan sasaran khusus aparat kepolisian seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.

Skalanya bahkan meningkat dengan serangan tepat di jantung pertahanan musuh dan mempunyai dampak lebih besar. Menurut dosen Universitas Indonesia ini, sejak serangan gerombolan teroris terhadap Polsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara tahun lalu terjadi pergeseran target serangan.Saat gembong teroris Dr Azahari dan Nurdin M Top masih beroperasi, sasaran selalu dikaitkan dengan lokasi yang berhubungan dengan kepentingan Amerika Serikat.

Namun, kini aparat kepolisian mulai menjadi sasaran karena dianggap sebagai barisan Thoghut atau tentara setan. ”Mereka (polisi) memang dijadikan target sasaran yang baru,”ujarnya. Menurut dia, pola serangan yang dilakukan berbeda dengan serangan bom buku yang terjadi awal bulan lalu. Andi menganalisis kelompok yang melakukan serangan di Cirebon lebih besar dan terampil. Alasan pertama, bom yang digunakan berdaya ledak sedang dan dilengkapi dengan serpihan logam tajam untuk memperbesar efek kerusakan atau yang sering disebut sebagai bom curah mini.

Metode ini jarang sekali digunakan karena tingkat kesulitan dalam merakitnya, kecuali kelompok yang pernah dididik Dr Azahari, masterpiecenya sendiri.Di luar negeri,bom jenis ini digunakan pada peperangan yang terjadi di Chechnya, Amerika Latin, Afghanistan, Pakistan,Thailand,dan Kamboja. ”Jadi kelompok yang melakukan serangan paling tidak harus belajar di negara-negara tersebut dan praktik di sana,”ujarnya.

Peneliti dari Yayasan Prasasti Perdamaian Taufik Andrie mengatakan, penyerangan masjid merupakan model yang paling baru dalam serangan teroris di Indonesia. Serangan ke mesjid lazimnya terjadi pada wilayah dengan perselisihan antarsekte atau kelompok bersenjata muslim, seperti antaraSunni-Syiahatau Taliban dan Al-Qaeda. ”Jika ada kelompok-kelompok radikal dengan ideologi beda dan garis politik beda biasanya muncul serangan ke masjid,”ujarnya.

Di Indonesia, menurut Andrie, masjid termasuk tempat yang terlarang untuk diserang berdasarkan konsensus kelompok radikal, termasuk Jamaah Islamiyah yang sempat dipimpin Abu Bakar Ba’asyir. Adapun kriminolog dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung Yesmil Anwar melihat teroris sudah memasuki teritorial institusi keamanan paling strategis sekaligus menyerang rumah ibadah yang dapat menciptakan sensitivitas umat beragama di Indonesia.”Kantor polisi dibom sudah pernah.

Masjid dibom juga sudah pernah. Nah, ini mereka (teroris) sudah menyerang kedua-duanya sekaligus. Ini merupakan provokasi berintensitas tinggi dari terorisme internasional,” ujar Yesmil kepada SINDOkemarin. Sementara itu, Sultan Keraton Kasepuhan PRA Arief Natadiningrat mengaku sudah mengingatkan adanya ancaman bom melalui surat yang disampaikan pada kepolisian pada 20 Desember 2010.

Peringatan itu didasari rentetan peristiwa teror bom di Kota Cirebon.Di antaranya penemuan sebuah bungkusan plastik yang tak jauh dari krapyak, tempat salat Sultan Sepuh, di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan pada 26 Februari 2010. Sehari kemudian, 27 Februari 2011, ditemukan lagi bom yang berhasil dijinakkan tim Gegana Polri. ”Pada 20 Desember 2010 kami sudah memperingatkan ada ancaman bom di Cirebon melalui surat.Kemudian tanggal 14 Januari 2011 kami mendapatkan balasan dari Kapolresta Cirebon,”katanya.

Dalam surat balasan itu,Kapolresta Cirebon menjelaskan, hasil penyelidikan bersama Tim Densus 88 Polda Jabar serta Tim Gegana Sat Brimob Polda Jabar. Berdasarkan olah TKP dan keterangan saksi, peristiwa bom di Masjid Agung Sang Cipta Rasa dimaksudkan pelaku untuk mengundang keresahan warga, terutama di lingkungan sekitar masjid mengingat saat itu tengah mengadakan hajat besar rutin Maulid Nabi Muhammad SAW.

Kapolresta pun membeberkan modus operandi pelaku dengan membawa bungkusan kantong plastik berwarna hitam berisi sebuah tiner, satu bungkus bensin murni sebanyak satu liter, dua bungkus pecahan kaca,50 butir petasan seukuran ibu jari, yang diletakkan di pintu masuk ruang utama sebelah utara Masjid Agung Sang Cipta Rasa.Dalam surat itu pun Kapolresta mengaku masih melakukan penyelidikan dan penyidikan. Pihaknya pun belum mengetahui identitas pelaku.Terkait jawaban ini, Sultan Arief mengungkapkan keprihatinannya.

Undang-Undang Lemah

Menko Polhukam Djoko Suyanto menjelaskan, aksi-aksi terorisme sebenarnya bisa dicegah. Namun,langkah-langkah preventif tersebut selama ini belumdidukungadanya undangundang yang mampu menjangkaunya.” Ternyata ada anggota masyarakat, bahkan kadang tokoh masyarakat, yang mengajarkan kebencian terhadap sesama.Nah,perangkat hukum kita belum bisa menjangkau yang seperti itu. Padahal, anjuran- anjuran seperti itu sangat menyesatkan,”tandasnya.

Djoko mencontohkan, negara- negara lain seperti Inggris bisa langsung menangkap orangorang yang melakukan penyebaran kabar kebencian. ”Apakah kita akan seperti itu? Sekarang sedang disiapkan,tanpa menghilangkan hak-hak orang berdemokrasi, ”imbuhnya. Kepala BIN Sutanto menyatakan, saat ini undang-undang yang ada tidak bisa menjangkau orang-orang yang menyebarkan kebencian.Tindakan ini biasa dilakukan jaringan teroris dalam merekrut anggota baru.

”Harus kita pikirkan untuk menyelamatkan masyarakat. Undang-undang kita tidak bisa menjangkau, perlu perangkat hukum baru,”pungkasnya. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dalam temu wicara dengan TNI Angkatan Udara mendesak pemerintah untuk bertindak tegas terhadap kelompok-kelompok yang melakukan tindakan anarkistis. Berdasarkan konstitusi, aparat negara diberi wewenang khusus untuk menggunakan senjata,dalam hal ini TNI Polri. ”Kalau (peristiwa) bom itu sifatnya ideologis, itu bentuknya ancaman. Setiap upaya mengganggu ideologi bisa ditindak tegas berdasar konstitusi,”ujar Mahfud

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s