>Pondok Pesantren Minhajurrosyidin Jember Selatan "Potensi Pembinaan Akhlak Generasi Bangsa"

>

ImagePonpes Minhajurrosyidin Jember Selatan
Kelahiran pondok pesantren di tanah air, tidak dapat dipisahkan dari sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Dan sampai saat ini kehadirannya tetap menjadi kebanggaan tersendiri bagi umat Islam. Sejak awal berdirinya hingga sekarang, banyak pondok pesantren yang mempertahankan proses pembelajaran sistem wetonan, sorogan dan bandongan. Walaupun sejak 1970-an mulai banyak pesantren yang membuka diri untuk mempelajari pelajaran umum.

PONDOK Pesantren Minhajurrosyidin terletak di Jl. Kotta Blater km. 5, Andongsari, Ambulu, Jember, Jawa Timur. Ambulu, sebuah kota kecamatan yang terletak di wilayah selatan Jember ini berbatasan dengan Samudra Hindia. Ambulu merupakan kota kecil. Akan tetapi merupakan kota kecamatan teramai di Kabupaten Jember. Ambulu bukan kota santri. Tetapi Ambulu justru menjadi barometer music di Jember. Sebagai kota kesenian, di kota kecil ini pertunjukan musik sekelas nasional sering digelar. Namun begitu kehidupan umat beragama dan toleransi sesama pemeluk agama bisa berjalan cukup harmonis.

Pondok Pesantren Minhajurrosyidin yang berdiri tahun 2005 awalnya adalah hasil dari pemikiran beberapa tokoh agama di kota itu, diantaranya KH. Masduqi, KH. Muzakki Abdillah, KH Muhammad Tohari, dll. Sejak berdirinya ponpes tersebut sampai sekarang, kepala desa Andongsari ditetapkan sebagai Ketua Dewan Penasehat. Penyelenggaraan pendidikan di Pondok Pesantren Minhajurrosyidin ini menggunakan sistem klasikal, berjenjang dan memiliki tingkatan mata pelajaran yang diberikan. Seperti halnya pontren yang dimiliki LDII di berbagai daerah, Pondok Pesantren Minhajurrosyidin mengajarkan materi pokok Al Quran (mulai pelajaran bacaan, terjemah sampai khatam), Al Hadits, bahasa Arab, nahwu Shorof, Seni membaca Al Quran, pengetahuan umum, olahraga, dan beberapa pelajaran tambahan lainnya.

Para santri di pontren ini menimba ilmu agama secara mendalam. Misalnya praktek ibadah, mengaji, belajar hadits, tafsir, Al-Quran dan lain-lain. Pelajaran ini diberikan sejak pagi hingga malam hari. Porsi belajar mereka lebih banyak untuk memahami pelajaran. Sistem pendidikan tradisional berupa halaqoh masih tetap dipertahankan dalam kegiatan pengajian ini.
Materi pelajaran atau kurikulum di pesantren yang diajarkan kepada para santri, sejak berdiri hingga sekarang, tidak jauh berbeda dengan yang diajarkan di pondok-pondok yang didirikan LDII di kota-kota lain. Materi pelajaran wajib adalah belajar membaca dan terjemah Al Quran, Al Hadits, dan penguasaan ilmu faroidz, tajwid, dll. Adapun Pelajaran tambahan yang diberikan meliputi komputer, teknik bangunan, berkebun, menjahit, olahraga, dll. Para guru yang rata-rata lulusan Pondok Pesantren di Jawa Timur pun siap menggembleng para santriwan dan santriwati ini. Diantaranya adalah Ust. Miftahul Huda, Ust. Ismail, dan Ust. Wiyono.

Dibawah bimbingan para ustadz yang rata-rata masih berusia muda, kegiatan di Ponpes Pondok Pesantren Minhajurrosyidin memang terasa cukup padat. Setiap jam 02.00 dini hari, santriwan dan santriwati sudah mulai apel malam, berdoa dan sholat tahajjud. Usai sholat subuh dilanjutkan dengan Senam Barokah, menderes Al Quran, lalu bersih-bersih, mandi, sarapan, hingga kira-kira pukul 08.00. Diteruskan dengan terjemah Al Quran sampai pukul 10.00. Pukul 10.30 – 11.30 mengaji Al Hadits. Bakda sholat dhuhur, jam 14.00 – 15.30 pengajian Al Hadits. Usai sholat ashar dilanjutkan dengan menderes Al Quran hingga pukul 17.00. Bakda sholat Maghrib diadakan nasihat agama oleh para pengurus hingga sholat Isa tiba. Bubar sholat Isa pengajian hingga pukul 22.00. Istirahat pukul 22.00 – 02.00.

Walaupun acaranya boleh dibilang padat, tetapi bagi para santri yang rata-rata berpendidikan SMP dan SMA ini tidak mempunyai halangan berarti. Bahkan diantara mereka masih ada yang sambil menuntut ilmu di pendidikan umum. Walaupun begitu mereka tetap sabar, tekun, dan ulet. Pondok bagi para santri ini merupakan jalan untuk mengubah jalan hidupnya. Mereka yang sebelumnya tidak mengenal huruf Al Quran, secara bertahap kini sudah lancar membaca dan mampu mengkhatamkan bacaan Al Quran.

Kunci keberhasilan pendidikan di pondok pesantren, seperti dituturkan Ketua Ponpes Minhajurrosyidin, Ust. Teguh Haryanto, adalah keikhlasan para kyai dan ustadz dalam membina para santri. Disamping ketekunan para santri dalam belajar.

Dikatakan Ust. Teguh Haryanto, keikhlasan kyai dalam mengajar dan membina santri tidak pernah dan tidak akan terbayarkan dengan harapan nilai materi dan duniawi. Keikhlasan yang total menjalankan perintah Allah mengajar dan mengajak masyarakat kepada Islam. Keikhlasan yang tak pernah terpotretkan dengan kepopuleran, mereka lebih memilih diam dalam surau dan kezuhudan yang sepi dan senyap dari gejolak politik dan gemerlap sosial dan duniawi yang kadang bisa merusak keikhlasan dan mengantarkan kepada riya dan sum’ah (kepopuleran).

Keikhlasan, kealiman, istiqomah dan tawadu’ dan ketelatenan sang kyai adalah modal utama yang dapat memproduk santri yang berakhlak mulia sekaligus sebagai bendera kesuksesan pesantren dalam mencetak ulama, zu’ama dan fuqoha. Di samping itu ketekunan santri dalam belajar, menjauhi maksiat dan meninggalkan segala larangan dan kewira’ian orang tua dalam memberi nafkah kepada anaknya sangat dijunjung.

Pesantren adalah lembaga pendidikan yang sangat berakar dari masyarakat. Kiai pendiri sebuah pesantren akan hidup berinteraksi dengan masyarakat sekitar, dan masyarakat pun merasa memilikinya.

Harus disadari, bersamaan dengan derasnya arus globalisasi yang tak bisa dikendalikan, kemajuan zaman secara meyakinkan telah mengubah dan mengarahkan kebudayaan kita. Kemajuan teknologi beserta dampaknya telah menguasai hampir seluruh masyarakat kita. Dalam hal ini, peradaban modern kemudian menjelma menjadi tantangan bagi umat Islam. Dalam banyak hal, umat Islam merasa terikat dengan tradisi yang dikembangkan atas dasar ajaran agamanya. Akan tetapi, dalam kenyataan praktis, peradaban modern terasa begitu kuat mendesakkan nilai-nuilai baru bagi masyarakat.

Sejarah membuktikan bahwa pesantren telah berperanan sebagai agen ortodoksi Islam yang paling penting. Ini berarti bahwa pesantren lebih banyak memperhatikan bagaimana menjaga kesinambungan pemurnian Islam, ajaran Islam, dan tarikan akulturatif berbagai unsur sistem kepercayaan lokal atau asing. Oleh karena itu, soal kesinambungan menjadi sangat penting. Akibatnya, disamping menjadi ‘makelar kebudayaan’ (cultural broker), pesantren juga berfungsi sebagai filter unsur-unsur luar yang tampak lebih dominan, agar keutuhan Islam tampak terjaga.

About jemberldii

Membangun Aqidah Umat dengan Ilmu dan Hikmah, Berakhlakul Karimah dan Memiliki Kemandirian
This entry was posted in Ponpes Minhajurrosyidin. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s