>Jadilah Tim Solid dalam Keluarga Demi Suksesnya Dunia dan Akhirat

>

Sebait nasihat ulama pada waktu ijab kobul :
“Jadilah kamu sebagai suami yang bisa membantu menjadi partner atas istri untuk bisa meraih surga setinggi-tingginya, dan kamu istri… jadilah istri yang bisa membantu menjadi partner atas suami untuk bisa meraih surga setinggi-tingginya.”

بسم الله الرحمن الرحيم

30:21

Allah berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rohmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS ar-Ruum 21)

Sudah diketahui bersama bahwa tujuan utama menikah adalah untuk menyempurnakan agama, mengikuti aturan Allah dalam menyempurnakan nikmatnya buat makhluknya di dunia ini. Mawaddah warohmah akan lebih terasa dengan cara berkeluarga seperti ini.

Dari Anas ra., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang dikaruniai Allah istri yang sholihat, maka sungguh Allah telah menolongnya atas separo agamanya, maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam separo yang lainnya.” (Rowahu ath – Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath dan al –Hakim)

Rasulullah SAW bersabda, “Nikahilah wanita yang penuh kasih sayang dan yang subur (banyak menghasilkan anak).” (Rowahu Abu Dawud, An- Nasa’i)

Selain itu sudah menjadi kodrat bahwa dalam menjaga keberlangsungan hidup dan kehidupan ini, Allah mengenalkan sebuah sistem yang disebut pernikahan. Lewat jalur inilah Allah berkehendak untuk menjaga keberlangsungan family (rahim), selain untuk menyempurnakan agama, guna berinvestasi dari masa ke masa. Jadi tidak hanya mencari kesenangan dan kenikmatan saja maksud dari pernikahan itu. Tetapi lebih. Kalau hanya itu tentu tak ada bedanya dengan lokalisasi atau seperti apa yang mereka lakukan yang menyebut dirinya beraliran bebas. Pernikahan adalah suci, sakral dimana Arsy dan sifat rahim Allah bergantung di situ.

13:38

Allah berfirman; “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan.” (QS Ar-Ra’du 38)

Maka sekarang campurilah/gaulilah mereka dan carilah apa – apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. (QS Al- Baqoroh 187)

Inilah telaah lebih jauh dari arti mawaddah warohmah yaitu mendapatkan apa – apa yang telah ditetapkan Allah untuk manusia. Tak lain diantaranya adalah keturunan. Maka dalam hal ini petunjuk dari Rasulullah SAW begitu indah untuk kita cermati bersama.

Rasulullah SAW bersabda, ‘Maukah akau beritahukan kepada kalian, isteri – isteri kalian yang menjadi peghuni surga? Yaitu isteri yang penuh kasih, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya jika suaminya marah dia mendatangi kepada suami dan meletakkan tangannya di atas tangan suami seraya berkata, “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridho”.’ (Rowahu an- Nasa’i)

Namun sekarang ada sebagian orang yang “memlesetkan” pemahaman tentang atsar – atsar di atas, seperti misalnya tidak mau punya anak yang penting bahagia. Atau mengatur – atur, menunda – nunda dengan alasan belum siap dan tak mau repot karenanya. Bagaimana hal ini bisa diterima, sedangkan jelas – jelas disebutkan salah satu kebahagiaan dalam berumah tangga adalah jika memiliki anak. Lihatlah pasangan Brad Pit dan Angelina Jolie, mereka tak mau punya anak tetapi akhirnya adopsi anak dari berbagai benua. Dulu pasangan Tom Cruise dan Nicole Kidman juga sama adopsi anak, tak lain agar mereka mendapat kebahagiaan. Maka jadi paradox, jika ada orang mencari kebahagiaan tetapi tidak mau mendapatkan keturunan dari tulung sulbinya sendiri. Bisa dikatakan pasangan yang hanya ingin menikmati hubungan suami istri tetapi tidak mau memiliki anak, seperti orang mau enak saja tetapi tidak mau bahagia. Karena salah satu syarat kebahagiaan adalah menikmati setiap proses tahap demi tahap, baik yang menyenengkan ataupun tidak menyenangkan. Karena semua ini adalah sunnatullah.

“Ada empat perkara yang termasuk kebahagiaan, yaitu istri yang sholihah, anak – anak yang baik, lingkungan tempat bergaul yang baik dan rejekinya berada di negeri sendiri.” (Rowahu Ibnu Asaakir)

Bagi yang sudah punya anak bersyukurlah. Anaknya banyak bergembiralah, walau taraf kehidupan belum sebaik yang diinginkan setidaknya bisa “nyombong” sedikit seperti Abu Nawas. Kalau pun tidak bersyukurlah bahwa anda telah memiliki syarat kebahagiaan yang orang lain banyak yang belum dapatkan. Anda punya ladang berinvestasi menjadikan anak – anak itu anak yang sholih, yang bermanfaat baik bagi yang hidup maupun yang telah mati. Orang semisal Abu Nawas saja bisa memberikan pelintiran arti pentingnya anak sampai menyebut dirinya lebih kaya dari Allah, tentulah sangat istimewa makna anak dalam kehidupan ini. Bukan saja anak sebagai symbol sebuah kebahagiaan keluarga, akan tetapi lebih dari itu semua, sebagai penerus berkembangnya agama yang hak ini ila yaumil qiyamah. Bagi yang belum punya anak jangan berkecil hati berusahalah terus dan pasrahkan semua hasilnya hanya kepada Yang Khaliq. Nikmati prosesnya dan tunggulah hasilnya. Sebab ketika kita sudah memiliki anak, maka tersemai kewajiban di pundak kita untuk menjaganya dan menjadikan mereka seperti yang diajarkan oleh agama. Anak adalah amanat. Mari tunaikan dan bergembiralah.

About jemberldii

Membangun Aqidah Umat dengan Ilmu dan Hikmah, Berakhlakul Karimah dan Memiliki Kemandirian
This entry was posted in Keluarga Sakinah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s