Jurnalism, Islam dan Peran Ulama


disampaikan dalam Training Jurnalistik, DPD LDII Kabupaten Jember, 23 April 2013

A. Pengantar

Jurnalisme secara sederhana berarti pewartaan; yaitu proses mencari dan memperoleh data atau berita dari sumber, lalu mengemas dan menyampaikannya ke publik melalui media yang ada; baik cetak maupun elektronik.
Dalam buku Jurnalistik; Teori dan Praktik dikemukakan, bahwa Jurnalisme atau Journalism berasal dari kata journal, yang berarti catatan harian, atau catatan mengenai kejadian sehari-hari (Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat: 2005) 
Islam adalah nilai dan tatanan yang sumber utamanya dari Allah Swt melalui Nabi Muhammad Saw untuk seluruh manusia. Islam lebih merupakan jiwa bagi pers atau jurnalisme, bukan salah satu mazhab atau teori bagi jurnalisme. Karena itu tidak perlu ada istilah Jurnalisme Islam sebagai mazhab. Kalaupun ada, lebih tepat diartikan sebagai Jurnalisme tentang Islam atau jurnalisme yang berintegrasi dengan nilai keislaman, yaitu ketauhidan.
Peran ulama sebagai “waratsatul anbiya’” tentu sangat penting, dan yang harus diwarisi para ulama bukan hanya ilmunya, tetapi sekaligus juga akhlak dan ibadahnya. Dalam konteks sekarang, idealnya ulama bukan hanya melalukan “dakwah bil lisan”, tetapi sekaligus diharapkan melakukan “dakwah bil hal” dan “dakwah bil qalam” sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw, para Sahabat, Para Tabi’in, Para Tabiut Tabi’in, Para Walisongo, para Ulama, dan para tokoh penyebar Islam di Bumi Nusantara ini.
B. Islam dan Jurnalisme
Dalam Islam, dunia jurnalistik dan pers bukan hal baru. Banyak ayat-ayat al-qur’an yang memberitakan hal tersebut. Rasulullah Saw sebagai uswah hasanah telah memanfaatkan risalah sebagai media komunikasi. Walaupun Rasulullah Sawadalah seorang yang ‘ummi (buta huruf), surat menyurat bisa tetap terlaksana berkat bantuan para sahabat Nabi yang pandai membaca-menulis. Dakwah bil qalam (dakwah dengan tulisan) yang dilakukan oleh Rasulullah Saw menunjukkan bahwa landasan jurnalistik telah digagas oleh Rasulullah Saw sesuai dengan kondisi dan kemajuan umat Islam kala itu. 
Sekarang banyak jurnalis hebat yang pandai meng-cover berita atau kejadian, lalu menuliskannya lewat media. Dalam Islam, profesi  jurnalis banyak dilakukan oleh para sahabat Nabi Muhammad Saw. Para sahabat Nabi Saw banyak yang menhjadi penulis wahyu. Bahkan banyak diantaranya yang telah memberitakan tentang pribadi Rasulullah Saw, baik perkataan, perbuatan atau ketetapan beliau yang kemudian dibukukan sebagai Hadits. Merekalah wartawan terbaik sepanjang masa, karena berkat merekalah risalah Islam bisa tersebar dengan luas dan bisa dibaca sampai generasi dan masa kita.
Al-Qur’an sebagai sumber sejarah paling otentik dan valid sepanjang zaman ternyata memiliki fungsi dan peran jurnaslitik yang cukup tinggi. Buktinya, di dalam Al-qur’an terdapat ayat-ayat yang mengandung unsur jurnalistik. Misalnya dalam surat An-Naba’ ayat 2:   عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ “ Tentang berita yang besar.”
Dan surat Al-Kahfi ayat 56:
وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ وَاتَّخَذُوا آَيَاتِي وَمَا أُنْذِرُوا هُزُوًا (56)
Dan tidaklah kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan- peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.”
Selain itu, masih banyak ayat-ayat al-qur’an yang memiliki unsur-unsur jurnalistik, seperti termaktub dalam surat Alu Imran ayat 44, An-Nisa’ ayat 83 dan 165, Al-Maidah ayat 19, 41, dan 42, At-Taubah ayat 70 dan 33 surat lainnya dalam Al-Qur’an yang memiliki unsur dan bermakna jurnalistik dengan segala varian dan bentuknya.
Islam memuat nilai dan tatanan yang komprehensif. Islam lebih merupakan jiwa bagi pers atau jurnalisme, bukan salah satu mazhab atau teori bagi jurnalisme. Karena itu tidak perlu ada istilah Jurnalisme Islam, sebagai mazhab. Kalaupun ada, mungkin lebih tepat diartikan sebagai Jurnalisme tentang Islam atau tentang orang-orang Islam.
Selain itu, masih banyak ayat-ayat al-qur’an yang memiliki unsur-unsur jurnalistik, seperti termaktub dalam surat Alu Imran ayat 44, An-Nisa’ ayat 83 dan 165, Al-Maidah ayat 19, 41, dan 42, At-Taubah ayat 70 dan 33 surat lainnya dalam Al-Qur’an yang memiliki unsur dan bermakna jurnalistik dengan segala varian dan bentuknya.
Islam memuat nilai dan tatanan yang komprehensif. Islam lebih merupakan jiwa bagi pers atau jurnalisme, bukan salah satu mazhab atau teori bagi jurnalisme. Karena itu tidak perlu ada istilah Jurnalisme Islam, sebagai mazhab. Kalaupun ada, mungkin lebih tepat diartikan sebagai Jurnalisme tentang Islam atau tentang orang-orang Islam.
Kita bisa mengambil inspirasi dari empat sifat Rasululllah Saw; shiddiq (jujur dan dipercaya), amanah (pertanggung-jawaban), tabligh (menyampaikan semua tanpa ada yang disembunyikan) dan fathanah (cerdas dan mencerdaskan), ketika kita mencoba membicarakan nilai keislaman dalam jurnalisme. Pembicaraan ini sebagai salah satu upaya kita mengkritisi pers dan media agar memiliki pertanggungjawaban sosial, dalam melakukan kerja-kerja jurnalisme.
C. Peran Ulama
Peran ulama sebagai “waratsatul anbiya’” tentu sangat penting, dan yang harus diwarisi para ulama bukan hanya ilmunya, tetapi sekaligus juga akhlak dan ibadahnya. Dalam konteks sekarang, idealnya ulama bukan hanya melalukan “dakwah bil lisan”, tetapi sekaligus diharapkan melakukan “dakwah bil hal” dan “dakwah bil qalam” sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw.
Para Sahabat, sebagai penulis wahyu, penggagas kodifikasi al-qur’an, dan perawi hadits tentu sangat berjasa bagi kita. Berkat jasa para ulama tersebut kita bisa membaca dan mengkaji al-qur’an dan kitab-kitab hadits
Para Tabi’in, tentu jasanya tidak kecil dalam pengembangan ajaran Islam. Ketika al-qur’an belum memiliki tanda baca, Ulama pelopor ilmu nahwu  Al-Imam Abul Aswad Ad-Duali yang berhasil melengkapi huruf al-qur’an dengan syakal pada hurufnya. Selain itu, ulama besar Yahya bin Ya’mur (w. 100 H) beliau berhasil melengkapi bacaan al-qur’an dengan titik-titik. Dengan jasa beliau, kita  dimudahkan membaca al-qur’an, sehingga jelas yang dibaca a, i, u, dan sebagainya dan jelas pula perbedaan yang harus dibaca ba’ dan ya’, atau ta’ tsa’, dan sebagainya 
Demikian halnya, jasa Para Tabiut Tabi’in, Walisongo, Ulama, dan tokoh penyebar Islam di Bumi Nusantara ini, tentu sangat besar. Karena dari merekalah “sanad” kita belajar membaca, menulis dan sebagainya.
Kita menjadi jelas, bahwa berita bukan sekedar berita. Berita tidak netral dari sebuah nilai. Jurnalis Muslim harus yakin benar bahwa apa yang ditulisnya akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Karena itu, merekayasa berita bohong adalah sebuah dosa. Seorang Muslim harus berusaha konsisten dengan janji keislamannya bahwa ajaran Islam mengatur semua aspek kehidupan manusia.
D. Penutup
Ringkas kata, besarnya jasa para pendahulu kita harus kita lanjutkan. Calon-calon jurnalis yang sekarang sedang mengikuti training jurnalistik akan berimplikasi besar bagi pengembangan ajaran Islam.
Kita harus yakin, bahwa apa yang akan kita lakukan, memiliki persambungan dengan misi yang dikembangkan Rasulullah Saw, para Sahabat, para Tabi’in dan Tabiut Tabi’in, para Walisongo, para Ulama dan guru-guru kita.
Sehingga kita harus yakin, dengan bismillah, bahwa kebahagiaan dunia dan akhirat pasti kita raih berkat Rahmat Allah, Wallahu A’lam.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Profile Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA.


Curriculum Vitae
Guru Besar Pendidikan Islam STAIN Jember (IV/d). 
Lahir di Bondowoso, 1961. 
SD-MI di Tangsil Kulon/Tenggarang, 
PGAN (kelas 1-4 di Boindowoso, kelas 5-3 di Jember) S1 IAIN Jember, S2 & S3 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 
Menjabat Ketua Umum MUI Kabupaten Jember dan Korwil MUI Besuki (2011-2014) dan Anggota Dewan Ahli Pengurus Pusat ISNU (2012-2017). Setiap Rabu mengisi Acara Setetes Embun di Jember 1 TV, dan setiap Kamis Mengisi Artikel di Kolom Perspektif Radar Jember. 
Penghargaan yang pernah diperoleh: (1) PPK Award dari UGM & The Ford Foundation, 1998; (2) MSRA Award dari UGM & The Ford Foundation, 2004; (3) Peneliti Keagamaan Terbaik dari Kepala Balitbang Agama & Diklat Keagamaan Depag RI, 2004; (4) Research Award dari Deputi Bidang Riset IPTEKS Kementerian Ristek RI, 2003-2006; (5) Dosen Berprestasi dari Dirjen Pendidikan Islam Depag RI, 4 Januari 2007, (6) Tokoh Pendidikan dari Bupati Bondowoso, 2 Mei 2011, dan (7) Satyalancana Karya Satya XX Tahun dari Presiden RI, 6 Agustus 2012. CP 081559501961/0331-7777761
e-mail: ahalims1961@yahoo.com
Posted in Profile Ketua MUI Jember | Leave a comment

Winardi Nawa Putra, Pemred Radar Jember

Profil

Winardi Nawa Putra, lahir di Asahan, Sumatera Utara, 15 April 1974. Alumnus Administrasi Negara pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember lulus dengan predikat cumlaude (1998). Aktif dalam aktivitas pengkajian dan penelitian. Koordinator Liputan pada Harian Pagi Radar Jember, Group Jawa Pos. Penulis juga sebagai salah satu pendiri Institute of Civil Society (ICS), bergerak dalam bidang pengkajian, pemikiran, dan penerbitan. Aktif dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Pendiri Yayasan Gema Insan Bangsa (GIB). Semasa masih mahasiswa menduduki posisi sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jember Komisariat FISIPOL.
sumber : http://arumsabil6.blogspot.com/

Mengawali isi materi dalam diklat jurnalistik DPD LDII Kabupaten Jember, Winardi, berbagi pengalaman proses dan resiko menjadi seorang aktivis dan jurnalis harus siap selalu dilapangan dan tidur dimanapun bisa, bahkan boleh jadi selalu tidur di tempat orang, kos-kosan dan kalau sekarang harus sering tidur di kantor atau sering meninggalkan rumah. Hal ini dilakukannya karena mengejar deadline. Proses panjang telah dialaminya selama berkecimpung dalam dunia jurnalis. Terlebih menjadi seorang pemimpin redaksi, tantangan dan tugas berat ini di emban sebagai tanggungjawab yang super berat. Tanggung jawabnya di Radar Jember sebagai pemimpin media sudah pasti harus mengontrol, menelaah, dan menentukan tulisan-tulisan yang akan terbit. Penulis buku berjudul “Arum sabil mendobrak belenggu petani tebu” bersama Kun Wazis dan Abdul Rohman itu pernah bersama-sama A.Malik Afandi (Sekertaris DPD LDII) semasa menjadi aktivis di HMI Cabang Jember. Terlebih mengenal dekat sosok Pembina DPD LDII Kabupaten Jember Drs. Budiono, M.Si semasa menjadi ketua DPD LDII Kabupaten Jember yang juga sebagai guru/dosen di FISIPOL Universitas Jember.

 

Posted in Winardi Pemred Radar | Leave a comment

Subiantoro, Sang Reporter RRI

Media jurnalistik yang sedang dibangun melalui pelatihan diklat jurnalistik (23-24) Lembaga Dakwah Islam Indonesia Kabupaten Jember kepada kader-kader mudanya ternyata menumbuhkan semangat baru peserta diklat jurnalistik. Materi-materi jurnalistik seperti sistematika penulisan beserta sederet prestasi liputan serta tulisan yang berbobot dari pemilik nama Oryza Ardyansyah peliput beritajatim.com

Sederet pengalaman wawancara seorang reporter Radio Republik Indonesia (RRI) Kabupaten Jember, Subiantoro, yang konon pernah ditugaskan peliputan di sederet negara konflik, Istambul, Bosnia, dan beberapa negara Timur Tengah tak terkecuali liputan haji di Mekah & Madinah. Hidup berkecimpung di dunia reporter sangat bersyukur bisa ditugaskan di Jember, betapa dia merasakan pengalaman yang sampai saat ini selalu membayangi. Tugas setingkat manager RRI di wilayah Entikong, kecamatan di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Indonesia boleh jadi hampir sama tingkatnya sebagai staff di Jember, kata Subiantoro. Saat itu tingkat kehidupan yang serba kurang, jauh dari pemukiman, hampir semua bahan pokok mempunyai nilai yang jauh lebih mahal dibandingkan di Jember, terang Subiantoro. Namun yang lebih memilukan adalah tempat ibadah (Masjid) yang letaknya sangat jauh dan sedikit di Entikong sana menjadi kendala yang sangat mendalam, mayoritas penduduk yang memeluk agama katolik menjadikan wilayah entikong boleh jadi sulit menemukan Masjid.

Yang terkesan sangat baik dan enak dalam tugasnya menjadi reporter, adalah saat ditugaskan di Jepang dan Arab Saudi, terang Subiantoro. Walaupun terkendala dengan bahasa karena penyiraran RRI adalah berita yang ada disana di kirimkan baik melalui rekaman suara maupun tulisan yang dikirimkan via email. Apalagi bersama teman-teman yang memang sudah ada pengalamannya, terlebih pelayanan dan reward dari pemerintah setempat yang cukup, tambah Subiantoro. Subiantoro yang pernah di rawat di Rumah Sakit Panti Wiloso Citarum dan dirujuk ke RSUP Kariyadi, Semarang korban pelemparan batu saat berada di Kereta Api (KA) Gumarang jurusan Surabaya-Jakarta pada Senin malam (9/7/2012)

Subiantoro kini jadi ketua delegasi RRI Jember dalam lomba penyiaran RRI se-Indonesia yang dilaksanakan di Jambi, mohon dukungan dan doa dari semua peserta diklat jurnalistik LDII guna dapat mempertahankan juara. Sekaligus setelahnya mengisi materi akan pamit bersama rekan-rekan sejawatnya untuk terbang ke Jambi.

Ok, pak Subiantoro, kami segenap pengurus DPD dan seluruh peserta diklat turut mendoakan semoga dalam perjalanan diberi kemudahan-kelancaran-dan dapat mempertahankan gelar juara. Soo…. sukses selalu buat RRI Jember.

Posted in Sang Reporter RRI | Leave a comment

Oryza, Wartawannya Pakde Karwo

Oryza Ardiansyah Wirawan, wartawan beritajatim.com berdomilisi di Jember.

Salah satu nara sumber dalam diklat jurnalistik yang Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Kabupaten Jember yang dibuka oleh Ketua PWI Jember tersebut telah banyak meliput berita dan menjadi salah satu wartawan beritajatim.com. Oryza yang meraih juara II dalam tulisannya yang berjudul “Lumbungisasi di Lumbung Beras Jatim” pada lomba wartawan media cetak, online, radio dan televisi pada event lomba yang diadakan oleh Bank Indonesia meliputi wilayah kerja BI Surabaya, Kediri, Malang dan Jember (16/12/2012).

Pengalamannya dalam dunia kewartawanan, mau berbagi ilmu dan pengalaman kepada seluruh peserta diklat DPD LDII Kabupaten Jember. Duduk bersama 80 peserta diklat kiriman dari 26 PC LDII dan perwakilan Kabupaten Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi dan Lumajang. Prestasinya yang membawa dia diberi penganugerahan juara II bisa berjabat tangan dengan Pakde Karwo, idolanya yang saat ini sebagai Gubernur Jawa Timur.

Mengidolakan Pakde Karwo tidak terlepas dari komitmen Pakde Karwo untuk memajukan Jawa Timur dan selalu memberi ruang kepada wartawan dalam peliputan dan wawancara khusus.

Wartawan yang katanya pernah mual saat menjajal penerbangan dari Bandara Notohadinegor Jember yang masih belum jelas lagi kapan ada jadwal penerbangan selanjutnya tersebut menyampaikan bahwa menjadi seorang jurnalis itu harus bisa menulis dengan kebenaran berita, nara sumber, observasi dan riset. Terkait dengan penulisan berita, seorang jurnalis harus terjun langsung ke tempat kejadian perkara (TKP) sumber berita, observasi dan wawancara dengan nara sumber, objek berita, dan pelaku-pelaku serta saksi-saksi yang mengetahui persis kejadian serta lingkup peristiwa.

Sebuah berita jika disajikan haruslah memuat nilai berita di dalamnya. Nilai berita itu mencakup beberapa hal, seperti berikut.
  1. Objektif: berdasarkan fakta, tidak memihak.
  2. Aktual: terbaru, belum “basi”.
  3. Luar biasa: besar, aneh, janggal, tidak umum.
  4. Penting: pengaruh atau dampaknya bagi orang banyak; menyangkut orang penting/terkenal.
  5. Jarak: familiaritas, kedekatan (geografis, kultural, psikologis).
Lima nilai berita di atas menurut Oryza sudah dianggap cukup dalam menyusun berita. Sementara untuk membantu peserta bisa menulis berita yang bagus diharapkan dapat memenuhi salah satu kriteria yang menurut Oryza cakap untuk diberitakan, yaitu:
  • isi berita yang unik,
  • berita yang luar biasa,
  • birita yang langka,
  • sesuatu yang dialami/dilakukan/menimpa orang (tokoh) penting,
  • sedang di gandrungi publik,
  • yang tersembunyi,
  • sesuatu yang sulit untuk dimasuki,
  • sesuatu yang tidak umum diketahui,
  • pemikiran dari tokoh penting,
  • komentar/ucapan dari tokoh penting,
  • kelakuan/kehidupan tokoh penting, dan
  • hal lain yang luar biasa.

Posted in Oryza sang wartawan | Leave a comment

Mengenal Sofyan: Ketua Panitia Diklat Jurnalistik DPD LDII Kabupaten Jember

Sofyan panggilan akrab teman-teman baik di Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Syafiurrahman maupun di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNEJ lahir di Situbondo pada tanggal 29 Maret 1988, nama lengkapnya Sopyan Dwi Kuwdiyanto.

Perawakannya yang tegap namun berambut gondrong ini lebih dikenal oleh teman-teman sebaya dilingkungannya tempat nongkrongnya lebih dikenal dengan wartawan kampus. Yaa… hobinya yang suka menulis dan selalu berkecimpung dalam jurnalistik kampusnya menimba ilmu, sangat pantas untuk menjadi ketua panitia diklat jurnalistik yang diselenggarakan oleh DPD LDII Kabupaten Jember (23-24) April 2013. Diklat jurnalistik dengan tema “Melalui Jurnalisme yang Sehat – Kita Wujudkan Karakter Bangsa yang Bermartabat, Profesional dan Religius Demi Tegaknya NKRI.”

Tema yang panjang padat dan mendalam ini menjadi harapan yang baik bagi dunia jurnalistik utamanya dunia media yang selama ini selalu mengangkat hal-hal yang negatif menjadi isu-isu media yang booming di masyarakat. Betapa tidak, hampir di semua media belum lama ini setiap harinya ditayangkan perseteruan antara Adibing slamet dengan guru spiritualnya Eyang Subur. Tayangan yang tidak henti-hentinya di pemberitaan baik media cetak maupun televisi yang berseteru dan saling hujat antara kedua belah pihak. Perseteruan yang tidak ada ujung pangkalnya sampai-sampai ditayangkan debat terbuka dihadapan jutaan penduduk Indonesia bahkan tayangan Youtube yang ditonton ratusan ribu pengunjung, coba saja buka linknya disini.

Naah…. daripada ngurusin perseturan artis-artis yang gagal dalam membangun citra ketenarannya, eiiiit…. boleh jadi dengan perseteruan mereka malah lebih tenar yaa…. heheheee… buktinya mereka sering nongol yaa di TV. Lalu dibayar berapa siiih, kontraknya berapa siii, cukup ngemaliin duit dan harta mereka yang katanya kena tipu Subur dan sebaliknya yang katanya Subur justru suka dermawan dan suka membagi-bagi uang. Naaah…kaaan….. pada akhirnya urusannya duit-duit-duit dan duit… dan yang jadi korban sesungguhnya adalah publik yang selalu penasaran dan haus informasi. Dan pada akhirnya bagaikan sinetron yang panjang ceritanya dan tayangannya banyak episodenya, sehingga bikin publik ketagihan apalagai kalangan ibu-ibu… heheheee…. katanya hobi lihat sinetron, padahal terkait Adi dan Subur sudah kayak minum obat sehari tiga galon….

Ngapain ngupas soal itu seeeeh…. yaaa… terkait dengan jurnalistik, segitu aja deeh kupasan tentang ketua Panitia, Sofyan. Maaf bila ngelantur deeeh yaaa….

Posted in Ketua Panitia Diklat Jurnalistik, Sofyan | Leave a comment

Diklat Jurnalistik DPD LDII Jember Dibuka Langsung Ketua PWI Jember

Diklat jurnalistik (23/4) yang diselenggarakan oleh DPD LDII Kabupaten Jember secara langsung dibuka oleh ketua Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Jember, Effendi.

Dalam mengawali sambutannya, Effendi menyampaikan suatu kehormatan dapat membuka diklat jurnalistik yang biasanya dibuka langsung oleh Ketua DPD LDII. Kesempatan yang sangat istimewa tersebut disampaikan didepan 26 utusan PC LDII se-Jember dan beberapa perwakilan dari Kabupaten Situbondo, Banyuwangi, Bondowoso dan Lumajang. Effendi berharap dengan diklat jurnalistik yang dilaksanakan DPD LDII Kabupaten Jember ini dapat menumbuhkan minat peserta diklat untuk menulis dan menjadi wartawan dilingkungannya masing-masing. Saya merasa bersyukur dapat hadir disini dan berkumpul bersama dengan warga LDII yang sebelumnya saya hanya mengenal beberapa orang saja, kini bisa berjumpa langsung dengan pengurus DPD LDII Kabupaten Jember, terang Effendi. 

Sementara dalam laporannya, ketua panitia diklat (Sofyan), menyampaikan motivasi DPD LDII Kabupaten Jember menyelenggarakan diklat bahwasanya media sekarang ini sedang ramai dan tren di masyarakat dengan istilah jurnalisme warga (citizen journalism) adalah kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis serta penyampaian informasi dan berita. Sofyan melaporkan bahwa diklat jurnalistik ini diikuti oleh 26 ke26 utusan PC LDII se-Jember dan beberapa perwakilan dari Kabupaten Situbondo, Banyuwangi, Bondowoso dan Lumajang. Sofyan mengucapkat terimaksih kepada suma narasumber (pemateri) yang telah berkenan siap membagikan ilmunya kepada peserta baik dari Ketua PWI (Effendi), Ketua MUI (Prof.KH. Halim Subahar), RRI, Oryza, dan semua panitia yang sudah berkenan membantu suksenya pelaksanaan diklat jurnalistik. Tak ada manusia yang sempurna, demikian yang telah kami lakukan sehingga manakala terdapat banyak kekurangan dan kekhilafan, mohon sekiranya dapata dimaafkan, terang Sofyan.

Dr. Miswar, M.Sc mewakili Ketua DPD LDII Kabupaten Jember Drs. Sunardi, MT yang kebetulan saat pelaksaan sedang sakit, menyampaikan kepada seluruh peserta untuk dapatnya menimba ilmu tentang jurnalistik ini yang memang sengaja di isi oleh pakar-pakar dibidang jurnalistik. Diharapkan setelahnya pelaksanaan para peserta dapat termotivasi untuk bisa menulis dan paling tidak mengerti, memahami dan setidaknya bisa berperilaku selayaknya seorang jurnalistik professional di lingkungannya masing-masing dan menjadi citizen journalism dalam skup wilayah masing-masing. Boleh jadi bisa menjadi nara sumber berita di wilayah masing-masing.

Posted in Pembukaan Diklat Jurnalistik | Leave a comment